Ia juga menilai langkah pemerintah memasukkan pembangunan transmisi baru dalam RUPTL 2025–2035 sepanjang 48.000 kilometer sirkuit sebagai keputusan tepat, namun perlu percepatan eksekusi.
“RUPTL itu roadmap yang baik, tetapi harus segera turun menjadi kontrak, pembangunan, dan penyelesaian proyek di lapangan. Konsumen menunggu listrik bersih yang andal dan terjangkau, bukan sekadar rencana panjang di atas kertas,” tegas Tohom.
Baca Juga:
Konversi PLTD ke PLTS Bisa Hemat Konsumsi Minyak dan Gas Sekaligus Jaga Defisit APBN di Bawah 3 Persen, ALPERKLINAS: Pemerintah Top!
Lebih jauh, Tohom menekankan bahwa kehadiran infrastruktur transmisi akan meningkatkan minat investor karena memberikan kepastian bahwa listrik yang mereka hasilkan dapat langsung diserap PLN atau industri.
“Energi terbarukan tidak hanya bicara lingkungan, tapi ekonomi. Jika investor yakin listriknya terserap, ekosistem EBT akan bergerak, tarif dapat lebih kompetitif, dan konsumen menikmati dampak akhirnya,” jelasnya.
Ia pun mengapresiasi komitmen pemerintah yang selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, namun mengingatkan bahwa keberhasilan transisi energi ditentukan oleh kemampuan negara menutup ‘bottle neck’ infrastruktur.
Baca Juga:
Perkuat Ekonomi Lokal Sekitar Pembangkit, ALPERKLINAS Apresiasi PLN Olah 3,44 Juta Ton Abu Sisa Pembakaran Batubara PLTU
“Transmisi adalah kunci. Jika itu dibangun, maka percepatan EBT bukan mimpi lagi, tetapi realitas yang dapat dirasakan seluruh masyarakat,” tutup Tohom.
[Redaktur: Mega Puspita]