Konsumenlistrik.com | Seperti dilaporkan Arab News, Lebanon menandatangani kesepakatan pada Rabu (26/1/2022) untuk mengimpor listrik dari Yordania melalui Suriah.
Kesepakatan dicapai setelah jaminan Amerika Serikat (AS) bahwa perjanjian itu tidak melanggar sanksi terhadap rezim Assad di Suriah.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Desak Kepala Daerah Tiru Respons Cepat Walikota Langsa Tangani PJU Padam Demi Keamanan Masyarakat
Kesepakatan itu diharapkan dapat memasok Lebanon dengan dua jam listrik sehari, dua kali lipat dari apa yang saat ini tersedia dari EDL, perusahaan pembangkit listrik negara. Listrik dari Yordania akan menelan biaya sekitar US$ 200 juta (Rp 2,87 triliun) dari anggaran belanja Lebanon per tahun.
"Ini adalah momen bersejarah yang penting bagi Lebanon, bukan karena dampaknya tetapi karena simbolismenya. Kesepakatan itu adalah kesepakatan sederhana tetapi sangat penting bagi rakyat Lebanon, yang membutuhkan setiap jam tambahan listrik," kata Menteri Energi Walid Fayad.
Lebanon tidak memiliki listrik 24 jam sejak perang saudaranya berakhir pada tahun 1990. Namun krisis ekonomi negara itu telah menyebabkan pemadaman listrik hingga 23 jam sehari.Kebanyakan orang harus bergantung pada generator pribadi yang mahal.
Baca Juga:
Lebaran Idulfitri 1446 H, PLN Jawa Barat Sukses Jaga Pasokan Listrik Andal
Kesepakatan dengan Yordania didanai oleh Bank Dunia, dan harus disetujui oleh parlemen Lebanon. Rencananya, dalam dua bulan ke depan sudah bisa direalisasikan.
Perjanjian tersebut merupakan bagian dari rencana yang lebih luas untuk memompa gas Mesir ke pembangkit listrik di Lebanon utara melalui pipa yang mengalir melalui Yordania dan Suriah.
“Listrik Yordania dan gas Mesir dapat menyediakan sekitar enam jam listrik,” kata konsultan kebijakan energi Jessica Obeid.