Menurutnya, solusi jangka panjang harus mengarah pada pengembangan kawasan industri berbasis energi hijau yang terintegrasi dengan sumber pembangkit, sehingga tidak lagi bergantung pada distribusi jarak jauh yang mahal dan kompleks.
“Ke depan, kita harus mulai memikirkan green industrial zone, di mana industri dibangun dekat dengan sumber energi terbarukan, bukan sebaliknya,” jelasnya.
Baca Juga:
PLTS Atap 22,5 MWp Resmi Beroperasi, ALPERKLINAS: PLN Perkuat Ekosistem Energi Bersih
Di sisi lain, Tohom menilai kepastian permintaan listrik jangka panjang juga menjadi faktor penentu keberhasilan investasi PLTS, mengingat umur operasional pembangkit yang bisa mencapai lebih dari dua dekade.
“Kita tidak bisa berharap investor masuk kalau tidak ada jaminan offtaker yang jelas, karena ini investasi jangka panjang, bukan proyek jangka pendek,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa PLN sejatinya telah berada di jalur yang tepat dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan energi baru terbarukan dan keandalan sistem kelistrikan nasional.
Baca Juga:
Irak Tancap Gas Bangun PLTS Raksasa, Target Kurangi Krisis Listrik dan Emisi
“PLN harus tetap menjadi backbone sistem, karena PLTS sifatnya intermiten, sehingga harus didukung oleh sistem yang kuat, termasuk jaringan dan teknologi penyimpanan seperti baterai,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan hybrid system yang mengombinasikan energi surya dengan jaringan PLN merupakan solusi paling realistis dalam jangka menengah, sembari menunggu kesiapan teknologi penyimpanan energi yang lebih ekonomis.
“Kalau kita ingin transisi energi berjalan cepat tapi tetap aman, maka integrasi sistem adalah kuncinya, bukan berdiri sendiri-sendiri,” katanya.