KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO - Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) merespons gangguan sistem kelistrikan yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera dengan mengajak masyarakat tetap tenang dan menjaga kondusivitas selama proses pemulihan berlangsung.
ALPERKLINAS menilai langkah cepat PT PLN (Persero) dalam melakukan asesmen, koordinasi, hingga pemulihan bertahap menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
Baca Juga:
PLN Bergerak Cepat Pulihkan Listrik Sumatera, ALPERKLINAS Imbau Warga Jaga Kondusivitas
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba mengatakan gangguan sistem berskala besar seperti yang terjadi di Sumatera merupakan tantangan teknis yang dapat terjadi pada sistem kelistrikan modern di berbagai negara, terlebih ketika faktor cuaca memengaruhi jaringan transmisi utama.
“Dalam sistem interkoneksi sebesar Sumatera, ketika ada gangguan pada satu titik transmisi strategis, efek dominonya memang bisa sangat cepat. Yang terpenting adalah bagaimana operator sistem bergerak cepat melakukan isolasi gangguan dan pemulihan bertahap agar masyarakat tidak terlalu lama terdampak,” ujar Tohom Purba, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Tohom, keterbukaan PLN dalam menjelaskan kronologi gangguan hingga tahapan pemulihan menjadi hal positif yang perlu diapresiasi publik.
Baca Juga:
PLN Resmikan SPKLU ke-5.000 di Indonesia, ALPERKLINAS: Bukti Transisi Energi Tidak Lagi Sekadar Wacana
Ia menilai transparansi dalam sektor ketenagalistrikan sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem energi nasional.
“PLN tidak menutup-nutupi kondisi yang terjadi. Ini penting karena masyarakat perlu mengetahui bahwa gangguan tersebut bukan akibat kelalaian sederhana, melainkan gangguan sistem yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor teknis,” katanya.
Tohom memandang peristiwa ini juga menjadi momentum penting untuk mempercepat modernisasi jaringan transmisi dan penguatan sistem proteksi kelistrikan nasional.
Menurutnya, Indonesia ke depan membutuhkan sistem smart grid yang lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem maupun gangguan jaringan skala besar.
“Ke depan, penguatan teknologi monitoring real time, digitalisasi gardu induk, serta integrasi sistem proteksi berbasis kecerdasan buatan akan menjadi kebutuhan mutlak. Infrastruktur kelistrikan nasional harus dibangun bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk ketahanan energi puluhan tahun ke depan,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa pemulihan pembangkit, terutama PLTU batu bara, memang membutuhkan waktu lebih panjang dibanding pembangkit hidro atau gas karena adanya proses teknis pemanasan dan sinkronisasi sistem yang tidak bisa dilakukan secara instan.
“Publik perlu memahami bahwa menyalakan kembali sistem kelistrikan berskala besar bukan seperti menekan tombol biasa. Ada tahapan sinkronisasi, pengaturan frekuensi, kestabilan tegangan, hingga pengamanan sistem agar tidak terjadi gangguan susulan,” jelasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan peristiwa tersebut memperlihatkan pentingnya investasi berkelanjutan pada sektor transmisi dan interkoneksi antarwilayah guna menjaga stabilitas sistem kelistrikan nasional di tengah pertumbuhan kebutuhan energi masyarakat dan industri.
“Ketahanan energi modern bukan hanya soal membangun pembangkit baru, tetapi juga memastikan jaringan transmisinya memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan cuaca, lonjakan beban, dan risiko gangguan sistemik,” ungkapnya.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Sumatera atas gangguan sistem kelistrikan yang terjadi sejak Jumat (23/5/2026).
PLN menyebut indikasi awal gangguan dipicu cuaca pada ruas transmisi 275 KV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi yang kemudian memicu efek domino pada sistem kelistrikan Sumatera.
[Redaktur: Alpredo Gultom]