Tohom menilai strategi PLN yang memprioritaskan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sebagai pengganti PLTD sangat tepat, terutama untuk wilayah yang memiliki potensi sumber daya air.
"PLTMH itu sangat cocok untuk daerah-daerah terpencil karena skalanya fleksibel, biaya operasional rendah, dan memanfaatkan sumber daya alam setempat," ujarnya.
Baca Juga:
PLN UIP Sulawesi Perkuat Koordinasi dengan BINDA Sulsel untuk Jaga Keberlanjutan Proyek Ketenagalistrikan
Ia menambahkan, jika potensi mikrohidro tidak tersedia, maka pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dilengkapi dengan battery energy storage system (BESS) juga menjadi solusi yang efektif dan modern.
"Integrasi PLTS dengan sistem penyimpanan energi seperti BESS akan memastikan pasokan listrik tetap stabil meskipun bergantung pada cuaca," katanya.
Tohom juga menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arah besar transisi energi nasional yang tengah didorong pemerintah untuk mengurangi emisi karbon.
Baca Juga:
Clean Energy Day PLN Dorong Budaya Hemat Energi, ALPERKLINAS: Langkah Nyata Tekan Emisi
Menurutnya, langkah PLN ini bukan hanya soal teknis kelistrikan, tetapi juga bagian dari komitmen Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global.
"Ini adalah bentuk tanggung jawab negara dalam menghadirkan energi bersih sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang," tuturnya.
Ia berharap implementasi program ini dapat berjalan tepat waktu dan menjangkau seluruh wilayah yang selama ini masih bergantung pada PLTD.