Lebih jauh, Tohom memberikan pandangan visioner bahwa ke depan, keandalan listrik tidak hanya bertumpu pada kesiapsiagaan manusia, tetapi juga integrasi teknologi digital.
“PLN harus terus memperkuat sistem smart grid, predictive maintenance, dan digital monitoring agar keandalan tidak hanya reaktif tetapi juga preventif. Namun, sehebat apapun teknologinya, faktor manusia tetap menjadi kunci utama seperti yang kita lihat saat ini,” paparnya.
Baca Juga:
Desa Ombolata Nias Utara Kini Punya Listrik
Ia menambahkan bahwa komitmen siaga 24 jam yang dilakukan PLN selama periode 12 hingga 31 Maret 2026 dengan melibatkan sekitar 72 ribu personel merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi.
“Ini menunjukkan bahwa PLN tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga menjalankan fungsi pelayanan publik secara maksimal. Konsumen tidak boleh dirugikan dalam kondisi apapun, terutama pada momen sakral seperti Idulfitri,” tegasnya.
Tohom juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan dukungan terhadap para petugas lapangan.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Sebut Listrik Desa PLN Kunci Transformasi Ekonomi Wilayah Terluar
“Kita berharap ada perhatian lebih terhadap kesejahteraan, keselamatan kerja, dan penguatan kapasitas mereka. Karena di balik terang yang dinikmati masyarakat, ada pengorbanan waktu, tenaga, dan perasaan yang tidak terlihat,” katanya.
Menurutnya, narasi ‘tanggung jawab’ yang digaungkan para petugas PLN juga perlu menjadi inspirasi lintas sektor.
“Jika semua sektor pelayanan publik memiliki semangat yang sama, maka kualitas layanan di Indonesia akan meningkat signifikan. PLN sudah memberi contoh konkret,” pungkasnya.