KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyatakan sepakat dan memberikan apresiasi tinggi terhadap pernyataan para personel siaga PLN yang menyebut tugas mereka di momen Idulfitri bukan sebagai pengorbanan, melainkan bentuk tanggung jawab.
Organisasi ini menilai dedikasi puluhan ribu petugas PLN yang tetap berjaga 24 jam selama Lebaran merupakan wujud nyata perlindungan hak konsumen atas layanan listrik yang andal dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Desa Ombolata Nias Utara Kini Punya Listrik
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pernyataan “ini bukan pengorbanan tapi ini tanggung jawab kami” mencerminkan kultur profesionalisme yang kuat di tubuh PLN.
“Apa yang disampaikan oleh para petugas di lapangan itu bukan sekadar narasi moral, tetapi representasi dari etos kerja modern berbasis pelayanan publik. Ini adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan konsumen listrik nasional,” ujarnya.
Menurut Tohom, momentum Idulfitri menjadi ujian paling konkret bagi kualitas layanan kelistrikan nasional.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Sebut Listrik Desa PLN Kunci Transformasi Ekonomi Wilayah Terluar
“Di saat konsumsi listrik meningkat dan aktivitas masyarakat mencapai puncaknya, kehadiran personel siaga menjadi jaminan bahwa negara hadir melalui PLN. Ini bukan hanya soal teknis listrik, tetapi soal rasa aman, kenyamanan, dan keberlanjutan aktivitas sosial-keagamaan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti dedikasi para petugas seperti Riki Waberta, Zahro Ardhillah, hingga Muhammad Hanif Zidan sebagai simbol transformasi sumber daya manusia di sektor energi.
“Kita melihat adanya pergeseran paradigma, dari sekadar pekerja teknis menjadi pelayan publik yang memiliki empati sosial tinggi. Ini yang harus terus diperkuat melalui kebijakan SDM dan sistem manajemen yang adaptif,” kata Tohom.
Lebih jauh, Tohom memberikan pandangan visioner bahwa ke depan, keandalan listrik tidak hanya bertumpu pada kesiapsiagaan manusia, tetapi juga integrasi teknologi digital.
“PLN harus terus memperkuat sistem smart grid, predictive maintenance, dan digital monitoring agar keandalan tidak hanya reaktif tetapi juga preventif. Namun, sehebat apapun teknologinya, faktor manusia tetap menjadi kunci utama seperti yang kita lihat saat ini,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa komitmen siaga 24 jam yang dilakukan PLN selama periode 12 hingga 31 Maret 2026 dengan melibatkan sekitar 72 ribu personel merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi.
“Ini menunjukkan bahwa PLN tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga menjalankan fungsi pelayanan publik secara maksimal. Konsumen tidak boleh dirugikan dalam kondisi apapun, terutama pada momen sakral seperti Idulfitri,” tegasnya.
Tohom juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan dukungan terhadap para petugas lapangan.
“Kita berharap ada perhatian lebih terhadap kesejahteraan, keselamatan kerja, dan penguatan kapasitas mereka. Karena di balik terang yang dinikmati masyarakat, ada pengorbanan waktu, tenaga, dan perasaan yang tidak terlihat,” katanya.
Menurutnya, narasi ‘tanggung jawab’ yang digaungkan para petugas PLN juga perlu menjadi inspirasi lintas sektor.
“Jika semua sektor pelayanan publik memiliki semangat yang sama, maka kualitas layanan di Indonesia akan meningkat signifikan. PLN sudah memberi contoh konkret,” pungkasnya.
Sebelumnya, sejumlah personel PLN seperti Riki Waberta di UP3 Menteng, Zahro Ardhillah di ULP Jayapura Kota, dan Muhammad Hanif Zidan di ULP Tarakan menyampaikan bahwa tugas siaga saat Idulfitri bukanlah pengorbanan, melainkan tanggung jawab profesional demi memastikan listrik tetap andal sehingga masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan nyaman.
[Redaktur: Mega Puspita]