Tohom mengatakan, banyak keluhan konsumen yang sebenarnya bisa selesai tanpa harus menunggu datangnya petugas PLN, asalkan konsumen memahami fungsi-fungsi dasar tersebut.
“Sering kali yang terjadi adalah suara alarm berbunyi, konsumen panik, langsung komplain. Padahal ada kode yang bisa dimasukkan untuk menunda bunyi sebelum isi ulang. Ini contoh kecil pentingnya belajar,” tambahnya.
Baca Juga:
Susu UHT Langka di Sejumlah Ritel, BPKN RI Minta Distributor Tak Tahan Pasokan
Tohom yang juga Salah satu Pendiri Perkumpulan Perlindungan Konsumen Nasional ini mengatakan bahwa peningkatan literasi teknis seperti ini akan membangun budaya konsumen yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif.
Menurutnya, negara butuh konsumen yang kritis namun juga paham teknologi, bukan hanya menjadi pengguna yang pasif.
Ia menekankan bahwa edukasi harus dikemas lebih ringan dan bisa disebarkan melalui kanal-kanal media sosial agar lebih mudah dipahami berbagai lapisan masyarakat.
Baca Juga:
Menjelang Ramadan, Kebutuhan Modest Fesyen Fungsional Kian Meningkat
“Kalau edukasi disampaikan dengan bahasa teknis saja, tak semua orang tertarik. Tapi kalau dibikin seperti tips harian, itu bisa lebih cepat diterima,” jelasnya.
Tohom berharap ke depan, setiap perangkat kWh meter prabayar tidak hanya dilengkapi buku panduan, tetapi juga QR Code yang langsung terhubung ke video tutorial interaktif.
Dengan begitu, konsumen dapat belajar mandiri tanpa harus menunggu petugas datang atau mencari informasi dari sumber yang belum tentu valid.