“Tohom menambahkan, langkah hemat energi bukan berarti menurunkan kualitas hidup, tetapi mengoptimalkan penggunaan listrik secara bijak. Ini adalah bagian dari transformasi menuju masyarakat yang lebih sadar energi dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Dalam pandangan visionernya, Tohom menyebut Indonesia perlu bergerak menuju pola konsumsi energi yang efisien dan berbasis kesadaran. Ia bahkan mendorong adanya gerakan nasional hemat listrik yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga:
ALPERKLINAS: Ada 17 Barang Elektronik yang Harus Dicabut Colokannya untuk Hemat Listrik
“Kita harus mulai dari hal sederhana: mematikan lampu yang tidak digunakan, mengatur penggunaan AC, hingga memilih peralatan listrik yang hemat energi. Jika ini dilakukan secara masif, dampaknya akan sangat signifikan bagi negara,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai langkah DPR dapat menjadi momentum edukasi publik yang efektif. Ketika lembaga negara memberikan contoh nyata, maka kepercayaan publik terhadap kebijakan energi akan semakin meningkat.
“Tohom juga mengingatkan bahwa krisis energi bukan sekadar isu teknis, tetapi juga isu perilaku. Oleh karena itu, perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan kebijakan energi nasional,” pungkasnya.
Baca Juga:
Peduli Terhadap Ketahanan Ekonomi Masyarakat, ALPERKLINAS Minta Kementerian ESDM dan PLN Sosialisasikan Penghematan Pemakaian Listrik
Sebelumnya, DPR RI mulai menerapkan kebijakan penghematan energi dengan mematikan sebagian besar lampu di gedung-gedung parlemen pada malam hari, termasuk di Gedung Nusantara I, II, III, dan gedung kura-kura.
Selain itu, eskalator dimatikan serta penggunaan AC dan perangkat elektronik dibatasi, sehingga suasana gedung menjadi gelap dan sunyi.
Kebijakan ini juga diikuti dengan pengurangan jatah BBM bagi pejabat ASN di lingkungan DPR RI, sebagai bagian dari komitmen efisiensi energi yang lebih luas.