Ia menilai setiap penguatan fasilitas operasional di wilayah transmisi harus dipahami sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pasokan listrik, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki kebutuhan energi tinggi dan terus bertumbuh.
“Keandalan listrik Jakarta tidak boleh hanya dipahami sebagai urusan teknis internal PLN, tetapi sebagai bagian dari ketahanan layanan publik dan daya saing ekonomi,” ucapnya.
Baca Juga:
PLN WATCH: 60 Pembangkit Baru Berkapasitas 16,5 GW Bukti Transformasi PLN di Bawah Darmawan Prasodjo
Tohom mengatakan peresmian Gedung Kantor ULTG Ancol juga sejalan dengan kebutuhan transformasi PLN yang menuntut organisasi semakin adaptif, modern, dan responsif terhadap perubahan kebutuhan pelanggan.
Menurut dia, transformasi PLN akan semakin kuat apabila didukung oleh infrastruktur kerja yang mampu meningkatkan disiplin operasional, budaya keselamatan, serta profesionalisme insan PLN di setiap lini.
“PLN sedang bergerak dalam ekosistem energi yang makin kompleks, sehingga fasilitas kerja harus mampu mendukung SDM yang cepat membaca risiko, cepat mengambil tindakan, dan kuat menjaga standar layanan,” katanya.
Baca Juga:
PLN WATCH: 60 Pembangkit Baru Berkapasitas 16,5 GW Bukti Transformasi PLN di Bawah Darmawan Prasodjo
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa penguatan kantor layanan transmisi dan gardu induk merupakan langkah nyata PLN dalam memperkuat pelayanan kepada masyarakat dari sisi yang paling fundamental.
Ia menilai masyarakat sering kali hanya melihat listrik dari sisi nyala di rumah atau tempat usaha, padahal di balik itu terdapat rantai kerja teknis yang membutuhkan kesiapan fasilitas, personel, standar keselamatan, dan sistem koordinasi yang kuat.
“Kalau kantor operasionalnya semakin baik, sistem kerjanya semakin tertata, dan personelnya semakin produktif, maka pelanggan akan merasakan dampaknya melalui layanan listrik yang lebih andal,” ujarnya.