KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) memberikan apresiasi atas langkah PTPN IV Regional III dalam mengubah limbah kelapa sawit menjadi energi listrik, yang dinilai sejalan dengan upaya kemandirian energi nasional serta mendukung ekosistem ketenagalistrikan yang lebih berkelanjutan bersama PLN.
“Transformasi limbah sawit menjadi listrik ini adalah bukti nyata bahwa kemandirian energi bisa dibangun dari sumber daya domestik yang selama ini terabaikan,” ujar Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba, Selasa (8/4/2026).
Baca Juga:
PLN EPI Gandeng Kalimantan Powerindo, ALPERKLINAS: Ini Fondasi Kemandirian Energi
Ia menilai inovasi pemanfaatan palm oil mill effluent (POME) menjadi biogas bukan hanya solusi teknis, tetapi juga langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat bauran energi nasional.
“Langkah seperti ini harus didorong dan direplikasi, karena tidak hanya membantu PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik, tetapi juga memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi antara sektor perkebunan dan sektor ketenagalistrikan menjadi kunci dalam mempercepat transisi energi di Indonesia.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Imbau Semua Pihak Dukung Pembangunan PSEL 30 Lokasi Demi Energi Listrik Bersih
“PLN tidak bisa bekerja sendiri, dibutuhkan peran aktif industri seperti PTPN untuk menghadirkan sumber energi alternatif berbasis lokal yang berkelanjutan,” jelasnya.
Tohom juga menyoroti bahwa pemanfaatan limbah menjadi energi memiliki dampak ganda, yakni efisiensi biaya operasional dan pengurangan emisi karbon.
“Ini adalah tetapi solusi masa depan yang menjawab dua tantangan sekaligus, yakni krisis energi dan krisis lingkungan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi seperti ini dapat menjadi fondasi menuju sistem ketenagalistrikan yang lebih resilien dan mandiri.
“Jika dimaksimalkan, model seperti ini bisa menjadi tulang punggung energi di daerah-daerah berbasis perkebunan, sekaligus mengurangi beban sistem listrik nasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, ALPERKLINAS memandang bahwa langkah PTPN IV juga sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam mencapai target net zero emission (NZE).
“Energi berbasis limbah adalah masa depan, dan Indonesia punya potensi besar untuk memimpinnya, terutama dengan dukungan PLN sebagai off-taker utama,” katanya.
PTPN IV Regional III diketahui telah mengoperasikan enam instalasi biogas di Provinsi Riau sebagai bagian dari transformasi limbah menjadi energi.
Empat unit dimanfaatkan sebagai co-firing untuk mendukung operasional pabrik kelapa sawit, yakni PTBg Sei Pagar, PTBg Lubuk Dalam, PTBg Sei Rokan, dan PTBg Tapung.
Sementara dua lainnya, yaitu PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun, difokuskan untuk menghasilkan energi listrik dari biogas.
Melalui teknologi tersebut, limbah cair sawit diolah menjadi gas metana yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, langkah ini juga membuka peluang besar dalam pengembangan energi listrik berbasis limbah di masa depan.
Pemanfaatan biogas ini juga memberikan dampak signifikan terhadap penurunan emisi karbon, mengingat gas metana yang sebelumnya terbuang kini dapat dikelola secara optimal.
PTPN IV juga menegaskan komitmennya terhadap target net zero emission melalui berbagai pendekatan, mulai dari efisiensi energi hingga pemanfaatan energi baru terbarukan.
Selain itu, perusahaan menjalankan standar keberlanjutan global seperti RSPO, serta memperkuat praktik pertanian berkelanjutan, pengelolaan limbah terpadu, dan konservasi lingkungan.
Langkah ini turut diperkuat dengan penerapan konsep ekonomi sirkular, di mana limbah diolah menjadi produk bernilai seperti biogas dan kompos.
Dengan inisiatif ini, PTPN IV Regional III dinilai mampu menjadi contoh bagi industri sawit lainnya dalam mendorong praktik usaha yang lebih hijau, efisien, dan berdaya saing global.
[Redaktur: Mega Puspita]