KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menilai pemanfaatan teknologi Virtual Reality (VR) bertema Virtual Journey to Green Power oleh PT PLN (Persero) UID Jawa Timur sebagai langkah visioner yang memperkuat transparansi, edukasi publik, sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
“Langkah PLN UID Jawa Timur ini menunjukkan bahwa transformasi energi tidak hanya soal membangun pembangkit, tetapi juga bagaimana menghadirkan keterbukaan dan literasi publik melalui teknologi digital yang relevan dengan zaman,” kata Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, Jumat (16/1/2026).
Baca Juga:
Bantuan 1.000 Genset di Aceh, ALPERKLINAS: Momentum Merancang Sistem Kelistrikan Tahan Bencana
Menurut Tohom, penggunaan VR untuk menampilkan proyek-proyek EBT seperti PLTSa Benowo, PLTP Blawan Ijen, hingga PLTMH di Banyuwangi merupakan pendekatan strategis yang patut diapresiasi karena memungkinkan masyarakat dan pemangku kepentingan memahami proses pembangkitan energi bersih secara utuh dan faktual.
“Dengan visualisasi langsung, publik bisa melihat sendiri bagaimana sampah diolah menjadi listrik atau bagaimana panas bumi dimanfaatkan. Ini jauh lebih efektif dibanding sekadar narasi,” ujarnya.
Tohom menilai inovasi digital tersebut juga menjadi instrumen penting dalam melindungi konsumen listrik dari misinformasi.
Baca Juga:
PLN Perkuat Listrik Fasilitas Daur Ulang, ALPERKLINAS: Langkah Strategis Menuju Jakarta Kota Hijau
Ia menegaskan, transparansi berbasis teknologi akan membantu mematahkan hoaks terkait proyek EBT yang kerap muncul di tengah masyarakat.
“Ketika data dan proses ditampilkan secara terbuka dan edukatif, ruang spekulasi akan menyempit. Ini bentuk perlindungan konsumen yang modern,” katanya.
Lebih jauh, Tohom melihat inisiatif PLN UID Jatim sebagai contoh konkret bagaimana digitalisasi dapat mendukung percepatan transisi energi nasional.
Menurutnya, pendekatan VR tidak hanya bermanfaat untuk edukasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan kualitas pengawasan, efisiensi operasional, dan akuntabilitas pengelolaan pembangkit.
“Konsumen berhak tahu dari mana listrik berasal dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan. VR menjawab kebutuhan itu,” ucapnya.
ALPERKLINAS juga mendorong agar inovasi serupa direplikasi di wilayah lain, terutama daerah yang tengah mengembangkan EBT.
“Jika model ini diterapkan secara luas, kepercayaan publik terhadap agenda energi bersih nasional akan semakin kuat. Pada akhirnya, ini mendukung kemandirian energi dan keberlanjutan jangka panjang,” kata Tohom.
Sebelumnya, General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir menjelaskan bahwa teknologi VR memungkinkan pemantauan, pengendalian, evaluasi, hingga pemeliharaan terbatas pembangkit EBT dari satu lokasi terpusat, sekaligus menjadi sarana edukasi publik mengenai pengembangan energi ramah lingkungan.
[Redaktur: Mega Puspita]