“Kalau ini dikembangkan serius, Indonesia bisa memiliki model energi desentralisasi berbasis komoditas unggulan, bukan hanya sistem terpusat seperti saat ini,” katanya.
Sementara itu, pengolahan POME menjadi biogas dinilai memiliki dampak ganda, karena selain menghasilkan listrik, juga mampu menekan emisi metana yang selama ini menjadi isu lingkungan.
Baca Juga:
Tembus 140 Dollar AS di Tengah Krisis Pasokan, Dunia Berebut Minyak Siap Kirim
“Di sini letak kecerdasannya, karena kita bukan hanya bicara energi bersih, tapi juga efisiensi karbon secara sistemik, bahkan berpotensi masuk ke skema carbon credit global jika dikelola dengan standar yang tepat,” ujarnya.
Ia juga melihat strategi berbasis sawit ini sebagai tameng terhadap volatilitas harga energi global, karena Indonesia memiliki kontrol penuh atas rantai pasoknya, mulai dari bahan baku hingga distribusi.
Tohom menambahkan bahwa pengembangan energi lain seperti panas bumi, tenaga air, hingga green hydrogen menunjukkan bahwa Indonesia memiliki portofolio energi yang kuat untuk bersaing di tingkat global.
Baca Juga:
Iran Ubah Selat Hormuz Jadi “Gerbang Tol”, Potensi Cuan Ratusan Miliar Dolar Dampak Perang Memanas, Iran Kenakan Tarif Kapal di Selat Hormuz
Dalam pandangannya, pembangunan smart grid dan peningkatan efisiensi jaringan juga menjadi kunci agar energi bersih dapat didistribusikan secara optimal ke seluruh wilayah Indonesia.
"Langkah-langkah ini akan membentuk ekosistem energi modern yang mampu menjawab tantangan digitalisasi dan industrialisasi,” katanya.
Tohom juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat krisis global ini sebagai peluang untuk mempercepat reformasi sektor energi nasional.