KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO - Perjalanan tim gabungan PLN Peureulak, PLN UIW Nusa Tenggara Timur dan TNI menembus medan berat untuk membawa listrik hingga pelosok Aceh adalah kisah monumental di tengah bencana besar yang melanda Sumatra akhir tahun 2025.
Jalan berlumpur, jembatan putus, dan jarak tempuh ratusan kilometer hanya sebagian dari tantangan yang mereka hadapi.
Baca Juga:
Mobil Pajero Tabrak Pagar Mapolda Jambi, Pengemudi Positif Narkoba dan Miras
Namun, bagi banyak warga desa di HTI Ranto Naro, Simpang Jernih dan sekitarnya, upaya ini lebih dari sekadar proyek teknis, ia menjadi tanda nyata solidaritas sosial dan kemanusiaan.
Menurut pengamat sosial dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Domy Sokara, fenomena ini mencerminkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar pemulihan infrastruktur.
“Ini bukan sekadar pekerjaan, ini tentang dedikasi tanpa batas. Listrik di desa-desa terisolir bukan hanya soal penyambungan jaringan, tetapi soal keadilan sosial, kesetaraan layanan publik, dan pengakuan hak dasar warga untuk menikmati kehidupan yang layak,” ujar Domy.
Baca Juga:
Menjemput Terang di Ujung Aceh, Kisah Perjuangan PLN ke Desa Terisolir
Menurutnya, respon cepat dan kolaboratif antara PLN, TNI dan lembaga lain menunjukkan bagaimana solidaritas sosial dapat terwujud ketika sebuah komunitas menghadapi krisis besar.
Sebelumnya, pemulihan sistem kelistrikan di Aceh dilaporkan mencapai puluhan persen, bahkan sebagian gardu induk utama beroperasi normal pada pertengahan Desember 2025, langkah awal yang penting sebelum jaringan distribusi ke desa terpencil dilanjutkan.
Domy menambahkan bahwa cerita soal 40 personel yang berjalan kaki hingga 40 km, membawa tiang besi dengan perahu, dan terus melaju meskipun jalannya putus atau tertutup tumbuhan, menunjukkan esensi kerja kemanusiaan.