Lebih lanjut, ia melihat kolaborasi PLN dengan ratusan mitra, mulai dari UMKM, pemerintah daerah, hingga sektor industri, sebagai fondasi penting dalam membangun ekonomi sirkular nasional.
“Model kolaborasi ini harus diperluas. PLN telah membuktikan bahwa limbah industri dapat menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Ini sejalan dengan visi besar pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan berbasis potensi lokal,” tambahnya.
Baca Juga:
Dorong Kemandirian dan Konversi Energi, ALPERKLINAS Dukung Percepatan Peralihan Semua Sektor Khususnya Kompor dan Kendaraan ke Tenaga Listrik
Menurut Tohom, inovasi lanjutan seperti pengembangan Granulated Coal Ash (GCA) juga menjadi sinyal kuat bahwa PLN terus bergerak menuju praktik industri yang lebih modern dan ramah lingkungan.
“Ke depan, inovasi seperti GCA akan menjadi game changer dalam pemulihan kualitas lingkungan, khususnya air. Ini menunjukkan bahwa PLN tidak hanya berorientasi pada energi, tetapi juga pada solusi lingkungan yang komprehensif,” tutupnya.
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa pemanfaatan FABA merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan memperkuat ekonomi masyarakat.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Sebut Program Ekspor Listrik ke Luar Negeri Baik untuk Peningkatan Ekonomi Asalkan Pasokan Dalam Negeri Tidak Terganggu
Sepanjang 2025, pemanfaatan FABA mencapai 3,44 juta ton atau 103,46% dari total produksi.
Sementara itu, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo menjelaskan bahwa pemanfaatan FABA telah berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 166.472 ton CO2, serta dimanfaatkan di berbagai sektor seperti konstruksi, pertambangan, dan pertanian, dengan melibatkan lebih dari 300 mitra dari berbagai kalangan.
[Redaktur: Mega Puspita]