Tohom menambahkan bahwa riset bioenergi terintegrasi berbasis agroforestri melalui teknologi biorefinery dan gasifikasi biomassa merupakan terobosan yang patut didorong.
“Kalau ini berhasil, Indonesia tidak hanya mandiri energi, tetapi juga bisa menjadi pemain dalam rantai pasok energi hijau global,” ucapnya.
Baca Juga:
Alarm Krisis Energi Global: Universitas Pertamina Cetak SDM Hybrid Hadapi Masa Mendatang
Lebih jauh, ia menilai kolaborasi ini juga penting dalam meningkatkan kualitas layanan listrik kepada masyarakat.
“Dengan inovasi teknologi, gangguan bisa diminimalkan, efisiensi meningkat, dan pada akhirnya konsumen mendapat layanan yang lebih andal dengan biaya yang lebih terkendali,” tegasnya.
Kerja sama antara ITERA dan PLN Puslitbang sendiri mencakup pemanfaatan sumber daya manusia, fasilitas riset, serta pengembangan produk energi terbarukan seperti biopellet, syngas, hidrogen, dan produk kimia hijau.
Baca Juga:
Energi Baru dari PEP Zona 4, Sumur LBK-030 di Muara Enim Berpotensi Produksi 3.073 BOPD
Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan MoU oleh Rektor ITERA Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha dan General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh di Jakarta.
ALPERKLINAS berharap sinergi ini dapat terus berlanjut dan diperluas.
“Kami mendorong agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar diimplementasikan. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan adalah manfaat nyata bagi masyarakat sebagai konsumen listrik,” tutup Tohom.