“Dalam sistem interkoneksi besar seperti Jamali, pembangkit tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, karena seluruhnya harus bergerak dalam orkestrasi sistem yang dikendalikan PLN demi menjaga stabilitas pasokan,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa kesiapan PLTGU Jawa Satu menjadi bukti bahwa ekosistem kelistrikan nasional semakin matang dalam mengelola pembangkit berteknologi modern.
Baca Juga:
Koperasi di Jambi Kirim Perdana 300 Barel Minyak dari Sumur Masyarakat ke Fasilitas Pertamina
“PLN dan mitra pembangkit harus terus memperkuat koordinasi, karena tantangan kelistrikan ke depan bukan hanya menyediakan daya, tetapi memastikan listrik hadir dengan kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan yang makin baik,” katanya.
Ia juga memandang penggunaan teknologi combined cycle generasi terkini pada PLTGU Jawa Satu sebagai langkah penting untuk mendorong pembangkitan listrik yang lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.
“Teknologi pembangkit modern seperti combined cycle perlu terus menjadi bagian dari strategi transisi energi yang realistis, karena konsumen membutuhkan listrik yang andal hari ini sambil tetap mendukung arah energi bersih di masa depan,” ujarnya.
Baca Juga:
PLN WATCH: 60 Pembangkit Baru Berkapasitas 16,5 GW Bukti Transformasi PLN di Bawah Darmawan Prasodjo
Menurut Tohom, keandalan pembangkit besar seperti PLTGU Jawa Satu juga mendukung daya saing ekonomi nasional, karena sektor industri, layanan publik, transportasi, dan rumah tangga sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
“Listrik yang andal adalah fondasi produktivitas, sehingga setiap penguatan sistem pembangkitan akan berdampak pada dunia usaha, pelayanan publik, dan kenyamanan masyarakat,” katanya.
ALPERKLINAS berharap sinergi antara PT Jawa Satu Power, PLN, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat untuk memastikan konsumen memperoleh layanan listrik yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan.