KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif kembali beroperasinya Unit 1 PLTGU Jawa Satu setelah menjalani pemeliharaan, karena langkah tersebut dinilai memperkuat keandalan sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali atau Jamali.
Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba mengatakan, beroperasinya dua unit PLTGU Jawa Satu menjadi kabar baik bagi konsumen listrik, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan energi masyarakat, industri, dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa, Madura, dan Bali.
Baca Juga:
Koperasi di Jambi Kirim Perdana 300 Barel Minyak dari Sumur Masyarakat ke Fasilitas Pertamina
“Bagi konsumen, yang paling penting adalah listrik tersedia secara andal, stabil, dan berkualitas, sehingga kesiapan PLTGU Jawa Satu mendukung sistem Jamali patut diapresiasi sebagai bagian dari penguatan layanan kelistrikan nasional,” ujar Tohom, Sabtu(13/6/2026).
Menurut Tohom, keberhasilan PT Jawa Satu Power menyelesaikan pemeliharaan Unit 1 lebih cepat dari rencana menunjukkan adanya disiplin operasional, kesiapan teknis, dan budaya kerja yang berorientasi pada keandalan pasokan.
“Pemeliharaan yang selesai lebih cepat bukan hanya soal efisiensi waktu, tetapi juga mencerminkan kesiapan manajemen pembangkit dalam menjaga performa aset strategis yang sangat penting bagi sistem kelistrikan,” katanya.
Baca Juga:
PLN WATCH: 60 Pembangkit Baru Berkapasitas 16,5 GW Bukti Transformasi PLN di Bawah Darmawan Prasodjo
Tohom menilai posisi PLTGU Jawa Satu sebagai salah satu pembangkit listrik tenaga gas dan uap terbesar di Asia dengan kapasitas terpasang 1.760 MW memberikan kontribusi penting dalam menopang sistem interkoneksi Jamali 500 kV.
“Pembangkit sebesar ini memiliki peran strategis, karena setiap tambahan keandalan dari sisi pembangkit akan memberi dampak langsung terhadap rasa aman konsumen dalam menggunakan listrik,” ujarnya.
Ia mengatakan pengaturan pembebanan yang dilakukan PLN melalui Pusat Pengatur Beban atau P2B merupakan mekanisme penting untuk menjaga keseimbangan sistem, sehingga koordinasi antara operator pembangkit dan PLN harus berjalan presisi.
“Dalam sistem interkoneksi besar seperti Jamali, pembangkit tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, karena seluruhnya harus bergerak dalam orkestrasi sistem yang dikendalikan PLN demi menjaga stabilitas pasokan,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa kesiapan PLTGU Jawa Satu menjadi bukti bahwa ekosistem kelistrikan nasional semakin matang dalam mengelola pembangkit berteknologi modern.
“PLN dan mitra pembangkit harus terus memperkuat koordinasi, karena tantangan kelistrikan ke depan bukan hanya menyediakan daya, tetapi memastikan listrik hadir dengan kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan yang makin baik,” katanya.
Ia juga memandang penggunaan teknologi combined cycle generasi terkini pada PLTGU Jawa Satu sebagai langkah penting untuk mendorong pembangkitan listrik yang lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.
“Teknologi pembangkit modern seperti combined cycle perlu terus menjadi bagian dari strategi transisi energi yang realistis, karena konsumen membutuhkan listrik yang andal hari ini sambil tetap mendukung arah energi bersih di masa depan,” ujarnya.
Menurut Tohom, keandalan pembangkit besar seperti PLTGU Jawa Satu juga mendukung daya saing ekonomi nasional, karena sektor industri, layanan publik, transportasi, dan rumah tangga sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
“Listrik yang andal adalah fondasi produktivitas, sehingga setiap penguatan sistem pembangkitan akan berdampak pada dunia usaha, pelayanan publik, dan kenyamanan masyarakat,” katanya.
ALPERKLINAS berharap sinergi antara PT Jawa Satu Power, PLN, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat untuk memastikan konsumen memperoleh layanan listrik yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan.
“Ke depan, konsumen listrik harus ditempatkan sebagai pusat dari seluruh kebijakan dan operasi kelistrikan, karena tujuan akhir dari pembangunan infrastruktur energi adalah menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]