Oleh karena itu, menurutnya, kehadiran Enlit Asia-Electricity Connect 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan solusi teknologi dengan kebutuhan riil industri.
“Permintaan listrik untuk data center yang tumbuh hingga dua digit setiap tahun harus dijawab dengan kesiapan sistem kelistrikan nasional. Ini tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan melalui integrasi kebijakan, investasi, dan inovasi teknologi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Baca Juga:
Dorong Energi Bersih Nasional, ALPERKLINAS Dukung PLN Hapus Ribuan Mesin Diesel
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa transparansi, efisiensi, dan keberpihakan pada konsumen harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap langkah transformasi energi.
“Transisi energi jangan sampai membebani konsumen. Justru harus menghadirkan listrik yang lebih terjangkau, lebih andal, dan lebih ramah lingkungan,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan yang mencapai ratusan miliar dolar AS harus dimanfaatkan secara optimal dengan menjaga iklim investasi yang sehat dan berorientasi jangka panjang.
Baca Juga:
Clean Energy Day PLN Dorong Budaya Hemat Energi, ALPERKLINAS: Langkah Nyata Tekan Emisi
Dalam hal ini, kolaborasi antara pemerintah dan PLN dinilai sudah berada pada jalur yang tepat.
“Ke depan, Indonesia tidak hanya menjadi pasar energi, tetapi juga pusat inovasi energi di kawasan. Forum seperti Enlit Asia-Electricity Connect 2026 adalah pintu masuk menuju posisi strategis tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI Wanhar Abdurrahim menyatakan bahwa Enlit Asia-Electricity Connect 2026 menjadi platform penting untuk mempercepat transisi energi di Indonesia dan ASEAN, dengan mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, serta penyedia teknologi dalam satu wadah kolaboratif.