KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO, Jakarta - Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Enlit Asia-Electricity Connect 2026 yang digagas melalui kolaborasi antara Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero).
ALPERKLINAS menilai ajang ini sebagai platform strategis untuk memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan dalam mendorong percepatan transisi energi, sekaligus memastikan kepentingan konsumen listrik tetap menjadi prioritas dalam setiap kebijakan dan inovasi sektor ketenagalistrikan.
Baca Juga:
Dorong Energi Bersih Nasional, ALPERKLINAS Dukung PLN Hapus Ribuan Mesin Diesel
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa forum internasional tersebut memiliki nilai penting dalam membangun ekosistem energi yang berkelanjutan dan inklusif.
“Enlit Asia-Electricity Connect 2026 bukan sekadar ajang pameran atau konferensi, tetapi ruang strategis untuk menyatukan visi antara regulator, operator, investor, hingga konsumen dalam menciptakan sistem kelistrikan yang adil, andal, dan berkelanjutan,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Menurut Tohom, langkah pemerintah dalam mengakselerasi transisi energi melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga target 100 GW merupakan kebijakan progresif yang harus didukung seluruh elemen bangsa.
Baca Juga:
Clean Energy Day PLN Dorong Budaya Hemat Energi, ALPERKLINAS: Langkah Nyata Tekan Emisi
Ia menilai bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi yang solid antara pemerintah dan PLN sebagai tulang punggung ketenagalistrikan nasional.
“PLN memiliki peran krusial sebagai operator utama dalam memastikan implementasi transisi energi berjalan efektif di lapangan. Dukungan terhadap PLN dalam forum seperti ini menjadi penting agar transformasi energi tidak hanya ambisius secara target, tetapi juga realistis dan terukur,” katanya.
Lebih lanjut, Tohom menyoroti bahwa pertumbuhan sektor digital, khususnya data center yang meningkat pesat di kawasan ASEAN, membutuhkan pasokan listrik yang tidak hanya besar, tetapi juga bersih dan kompetitif.
Oleh karena itu, menurutnya, kehadiran Enlit Asia-Electricity Connect 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan solusi teknologi dengan kebutuhan riil industri.
“Permintaan listrik untuk data center yang tumbuh hingga dua digit setiap tahun harus dijawab dengan kesiapan sistem kelistrikan nasional. Ini tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan melalui integrasi kebijakan, investasi, dan inovasi teknologi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa transparansi, efisiensi, dan keberpihakan pada konsumen harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap langkah transformasi energi.
“Transisi energi jangan sampai membebani konsumen. Justru harus menghadirkan listrik yang lebih terjangkau, lebih andal, dan lebih ramah lingkungan,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan yang mencapai ratusan miliar dolar AS harus dimanfaatkan secara optimal dengan menjaga iklim investasi yang sehat dan berorientasi jangka panjang.
Dalam hal ini, kolaborasi antara pemerintah dan PLN dinilai sudah berada pada jalur yang tepat.
“Ke depan, Indonesia tidak hanya menjadi pasar energi, tetapi juga pusat inovasi energi di kawasan. Forum seperti Enlit Asia-Electricity Connect 2026 adalah pintu masuk menuju posisi strategis tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI Wanhar Abdurrahim menyatakan bahwa Enlit Asia-Electricity Connect 2026 menjadi platform penting untuk mempercepat transisi energi di Indonesia dan ASEAN, dengan mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, serta penyedia teknologi dalam satu wadah kolaboratif.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]