Menurutnya, pendekatan ini akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus melindungi konsumen dari potensi gangguan listrik.
"Ke depan, PLN perlu mengembangkan sistem early warning berbasis teknologi untuk membaca potensi kekeringan dan dampaknya terhadap produksi listrik. Ini bukan hanya soal operasional, tapi juga soal perlindungan konsumen," tegasnya.
Baca Juga:
Waspadai Peralihan Musim, Damkar Muara Enim Sidak Kesiapan Personel dan Peralatan
Tohom juga menyoroti pentingnya diversifikasi energi sebagai langkah strategis jangka panjang. Ia mengapresiasi integrasi PLTA dengan PLTS terapung dan pembangkit lainnya sebagai bentuk inovasi yang harus terus dikembangkan.
"Ketergantungan pada satu sumber energi harus dikurangi. Integrasi PLTA dengan PLTS, PLTU, dan PLTD adalah langkah cerdas untuk menjaga stabilitas pasokan listrik, terutama di wilayah seperti Kalimantan yang memiliki tantangan geografis tersendiri," tambahnya.
Menurutnya, dengan pengawasan yang ketat dan strategi adaptif, PLN tidak hanya mampu menjaga pasokan listrik tetap stabil selama musim kemarau, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap layanan kelistrikan nasional.
Baca Juga:
Bulan Agustus Mestinya Puncak Kemarau Tapi Diguyur Hujan, Ini Pemicunya
Sebelumnya, Tim Leader Operasional PLTA Ir PM Noor Riam Kanan, Widiyanto, mengatakan pihaknya telah menyiapkan strategi khusus untuk menjaga operasional pembangkit tetap optimal di tengah potensi penurunan debit air saat musim kemarau.
Salah satunya melalui langkah menabung air di area bendungan guna memastikan mesin pembangkit tetap berjalan lancar.
Widiyanto menjelaskan, pengelolaan air dilakukan secara adaptif mengikuti kondisi musim, dengan menjaga volume air saat kemarau dan mengalirkannya secara terukur saat musim hujan.