KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mendorong PT PLN (Persero) untuk memperkuat pengawasan seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai langkah strategis mengantisipasi potensi krisis pasokan listrik saat musim kemarau.
Upaya ini dinilai krusial untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional, khususnya di wilayah yang bergantung pada energi berbasis air.
Baca Juga:
Waspadai Peralihan Musim, Damkar Muara Enim Sidak Kesiapan Personel dan Peralatan
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kesiapsiagaan PLN dalam mengelola PLTA harus dilakukan secara terukur dan berbasis mitigasi risiko jangka panjang.
"PLTA adalah tulang punggung energi bersih yang sangat bergantung pada faktor alam. Karena itu, pengelolaan air dan pengawasan operasional harus dilakukan secara presisi, terutama saat memasuki musim kemarau," ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Ia menilai, langkah antisipatif seperti yang dilakukan di PLTA Ir PM Noor Riam Kanan merupakan contoh konkret yang perlu direplikasi di seluruh unit PLTA di Indonesia.
Baca Juga:
Bulan Agustus Mestinya Puncak Kemarau Tapi Diguyur Hujan, Ini Pemicunya
Menurutnya, strategi “menabung air” atau menjaga elevasi muka air menjadi pendekatan adaptif yang tidak hanya menjaga kontinuitas produksi listrik, tetapi juga menunjukkan kesiapan PLN dalam menghadapi variabilitas iklim.
"Langkah seperti pengaturan debit air, optimalisasi waduk, hingga integrasi dengan pembangkit lain harus menjadi standar operasional nasional. PLN tidak bisa lagi bekerja dengan pola reaktif, melainkan harus berbasis proyeksi dan skenario krisis energi," kata Tohom.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya transformasi digital dalam sistem pemantauan PLTA, termasuk pemanfaatan data real-time untuk mengantisipasi penurunan kapasitas produksi.
Menurutnya, pendekatan ini akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus melindungi konsumen dari potensi gangguan listrik.
"Ke depan, PLN perlu mengembangkan sistem early warning berbasis teknologi untuk membaca potensi kekeringan dan dampaknya terhadap produksi listrik. Ini bukan hanya soal operasional, tapi juga soal perlindungan konsumen," tegasnya.
Tohom juga menyoroti pentingnya diversifikasi energi sebagai langkah strategis jangka panjang. Ia mengapresiasi integrasi PLTA dengan PLTS terapung dan pembangkit lainnya sebagai bentuk inovasi yang harus terus dikembangkan.
"Ketergantungan pada satu sumber energi harus dikurangi. Integrasi PLTA dengan PLTS, PLTU, dan PLTD adalah langkah cerdas untuk menjaga stabilitas pasokan listrik, terutama di wilayah seperti Kalimantan yang memiliki tantangan geografis tersendiri," tambahnya.
Menurutnya, dengan pengawasan yang ketat dan strategi adaptif, PLN tidak hanya mampu menjaga pasokan listrik tetap stabil selama musim kemarau, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap layanan kelistrikan nasional.
Sebelumnya, Tim Leader Operasional PLTA Ir PM Noor Riam Kanan, Widiyanto, mengatakan pihaknya telah menyiapkan strategi khusus untuk menjaga operasional pembangkit tetap optimal di tengah potensi penurunan debit air saat musim kemarau.
Salah satunya melalui langkah menabung air di area bendungan guna memastikan mesin pembangkit tetap berjalan lancar.
Widiyanto menjelaskan, pengelolaan air dilakukan secara adaptif mengikuti kondisi musim, dengan menjaga volume air saat kemarau dan mengalirkannya secara terukur saat musim hujan.
Saat ini, ketinggian muka air masih dalam batas aman, yakni sekitar 58,9 meter, mendekati elevasi maksimum 59 meter.
PLTA Ir PM Noor Riam Kanan yang beroperasi sejak 1973 memiliki kapasitas total sekitar 30 MW dari tiga unit turbin, serta terintegrasi dalam sistem interkoneksi Barito untuk menyuplai kebutuhan listrik di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Selain itu, kawasan waduk juga dilengkapi PLTS terapung berkapasitas 361,92 kWp untuk mendukung operasional internal pembangkit.
[Redaktur: Mega Puspita]