Ia menyebut inovasi tersebut sebagai standar baru pelayanan publik di sektor ketenagalistrikan berbasis kendaraan listrik.
“Charging hub ini bukan hanya soal menambah mesin, tetapi menciptakan pengalaman baru bagi konsumen. Ketika pengisian bisa dilakukan serentak dalam jumlah besar, risiko antrean berkurang dan efisiensi meningkat. Ini langkah adaptif terhadap prediksi kenaikan pengguna EV hingga lima sampai enam kali lipat,” tegasnya.
Baca Juga:
Lonjakan Transaksi SPKLU 4 Kali Lipat Saat RAFI 2026, PLN UID Jabar Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik
Dalam perspektif perlindungan konsumen, Tohom menilai imbauan PLN agar masyarakat memahami spesifikasi kendaraan listrik masing-masing juga merupakan edukasi yang konstruktif.
“Edukasi soal karakteristik baterai dan teknologi EV sangat penting. Konsumen yang paham spesifikasi kendaraannya akan lebih bijak merencanakan perjalanan dan memanfaatkan SPKLU secara optimal. Ini sinergi antara kesiapan infrastruktur dan literasi pengguna,” ujarnya.
ALPERKLINAS memandang kesiapan SPKLU menjelang Nataru sebagai bagian dari transformasi besar menuju transportasi rendah emisi.
Baca Juga:
PLN UID Jabar Perkuat Kompetensi EV di SMKN 8 Bandung, Dari Teori Jadi Praktik Nyata
Menurut Tohom, keberhasilan layanan pada momen krusial seperti libur akhir tahun akan menjadi tolok ukur kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik di Indonesia.
“Kalau momentum Nataru ini berjalan lancar tanpa kendala berarti, maka kepercayaan masyarakat terhadap EV akan melonjak. Ini akan mempercepat transisi energi dan mendukung target dekarbonisasi nasional,” katanya.
Ia menambahkan, ALPERKLINAS akan terus mengawal agar layanan SPKLU tidak hanya memadai dari sisi jumlah, tetapi juga dari aspek keandalan, keamanan, dan kenyamanan konsumen di seluruh jalur strategis nasional.