Tohom menilai kebijakan BRIN yang mendorong penguatan talenta riset nuklir merupakan langkah yang visioner.
Menurutnya, kebutuhan sekitar 200 peneliti baru merupakan angka yang realistis jika Indonesia ingin membangun fondasi teknologi nuklir yang kuat.
Baca Juga:
Sempat Dikirim ke RI, Kapal Berisi Debu Seng Terpapar Radioaktif Cesium-137 Terjebak di LCS
Ia menambahkan bahwa pembangunan PLTN juga harus dipandang sebagai bagian dari transformasi sistem kelistrikan nasional yang semakin membutuhkan sumber energi bersih dan stabil untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“PLTN memiliki keunggulan sebagai sumber energi baseload yang stabil, rendah emisi, dan mampu memperkuat sistem kelistrikan nasional. Dalam jangka panjang, ini akan berdampak positif terhadap stabilitas pasokan listrik dan perlindungan kepentingan konsumen,” jelasnya.
Lebih jauh, Tohom menekankan bahwa keterlibatan peneliti lokal juga akan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi energi masa depan. Ia menyebut bahwa negara yang mampu menguasai teknologi nuklir secara damai biasanya memiliki kapasitas inovasi tinggi dalam berbagai sektor industri.
Baca Juga:
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Jadi Kebijakan Strategis RI, Tak Lagi Opsi Terakhir
“Kalau Indonesia serius membangun ekosistem riset nuklir, maka dampaknya tidak hanya pada sektor energi. Industri manufaktur, material maju, teknologi medis, hingga keamanan energi nasional juga akan ikut berkembang,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, industri ketenagalistrikan, dan pemerintah untuk memastikan regenerasi talenta di bidang nuklir berjalan secara berkelanjutan.
“BRIN sudah berada di jalur yang tepat. Namun yang tidak kalah penting adalah memastikan generasi muda Indonesia melihat bidang nuklir sebagai profesi masa depan yang bergengsi dan strategis bagi pembangunan nasional,” ujar Tohom.