KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyatakan dukungan terhadap langkah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Badan riset ini telah memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 peneliti baru di bidang nuklir guna memperkuat pengembangan teknologi dan riset dalam rangka pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia yang ditargetkan beroperasi pada 2032.
Baca Juga:
Sempat Dikirim ke RI, Kapal Berisi Debu Seng Terpapar Radioaktif Cesium-137 Terjebak di LCS
ALPERKLINAS menilai, prioritas pada penguatan kapasitas peneliti lokal merupakan langkah strategis untuk memastikan kemandirian teknologi sekaligus menjaga keberlanjutan sektor ketenagalistrikan nasional yang berorientasi pada kepentingan konsumen listrik.
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, mengatakan bahwa pembangunan PLTN merupakan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Penguatan SDM lokal di bidang nuklir, menurutnyam harus menjadi prioritas utama sejak awal.
Baca Juga:
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Jadi Kebijakan Strategis RI, Tak Lagi Opsi Terakhir
“Indonesia harus menempatkan peneliti lokal sebagai tulang punggung pengembangan teknologi nuklir. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi, tetapi harus menjadi negara yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan inovasi di sektor energi strategis,” ujar Tohom, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, pembangunan PLTN yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032 harus didukung oleh ekosistem riset yang kuat di dalam negeri, sehingga proses perencanaan, pembangunan, hingga operasional pembangkit dapat dilakukan secara mandiri oleh tenaga ahli nasional.
“Kalau sejak awal kita menyiapkan peneliti dan insinyur lokal, maka keberlanjutan proyek PLTN akan jauh lebih terjamin. Ini juga penting agar transfer teknologi tidak berhenti pada tahap konstruksi, tetapi benar-benar menjadi penguasaan teknologi oleh bangsa sendiri,” katanya.
Tohom menilai kebijakan BRIN yang mendorong penguatan talenta riset nuklir merupakan langkah yang visioner.
Menurutnya, kebutuhan sekitar 200 peneliti baru merupakan angka yang realistis jika Indonesia ingin membangun fondasi teknologi nuklir yang kuat.
Ia menambahkan bahwa pembangunan PLTN juga harus dipandang sebagai bagian dari transformasi sistem kelistrikan nasional yang semakin membutuhkan sumber energi bersih dan stabil untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“PLTN memiliki keunggulan sebagai sumber energi baseload yang stabil, rendah emisi, dan mampu memperkuat sistem kelistrikan nasional. Dalam jangka panjang, ini akan berdampak positif terhadap stabilitas pasokan listrik dan perlindungan kepentingan konsumen,” jelasnya.
Lebih jauh, Tohom menekankan bahwa keterlibatan peneliti lokal juga akan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi energi masa depan. Ia menyebut bahwa negara yang mampu menguasai teknologi nuklir secara damai biasanya memiliki kapasitas inovasi tinggi dalam berbagai sektor industri.
“Kalau Indonesia serius membangun ekosistem riset nuklir, maka dampaknya tidak hanya pada sektor energi. Industri manufaktur, material maju, teknologi medis, hingga keamanan energi nasional juga akan ikut berkembang,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, industri ketenagalistrikan, dan pemerintah untuk memastikan regenerasi talenta di bidang nuklir berjalan secara berkelanjutan.
“BRIN sudah berada di jalur yang tepat. Namun yang tidak kalah penting adalah memastikan generasi muda Indonesia melihat bidang nuklir sebagai profesi masa depan yang bergengsi dan strategis bagi pembangunan nasional,” ujar Tohom.
Menurutnya, jika pengembangan talenta nuklir dilakukan secara konsisten sejak sekarang, maka target operasional PLTN pada 2032 bukan hanya realistis, tetapi juga dapat menjadi tonggak penting dalam sejarah kemandirian energi Indonesia.
Sebelumnya, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menyampaikan bahwa pihaknya memproyeksikan kebutuhan hampir 200 peneliti baru di bidang kenukliran guna mendukung pengembangan riset dan teknologi dalam rangka pembangunan PLTN pertama di Indonesia.
Ia menegaskan penguatan SDM menjadi faktor kunci dalam mempersiapkan Indonesia memasuki era energi nuklir, mulai dari tahap riset, pengembangan teknologi, hingga operasional pembangkit di masa depan.
[Redaktur: Mega Puspita]