KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) merespons positif kunjungan kerja Komisaris Independen PT PLN (Persero), Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, ke PLTMG Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
ALPERKLINAS menilai pengawasan langsung terhadap aset pembangkitan merupakan langkah penting untuk memastikan keandalan sistem kelistrikan benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas layanan dan perlindungan hak konsumen, khususnya di wilayah Luwuk–Toili.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung PLTA 45 MW Pakpak Barat sebagai Proyek Strategis Ketahanan Listrik Sumut
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kondisi surplus daya listrik sebesar 9 Megawatt (MW) harus dimaknai lebih dari sekadar capaian teknis.
“Surplus listrik ini adalah sinyal kuat bahwa negara hadir melalui PLN. Namun kehadiran itu harus dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk layanan yang stabil, minim gangguan, dan biaya listrik yang semakin efisien,” ujar Tohom, Rabu (4/2/2026).
Menurut Tohom, pengelolaan PLTMG Luwuk yang dinyatakan beroperasi penuh menunjukkan adanya kemajuan signifikan dalam tata kelola pembangkitan di daerah sistem terisolasi.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Sinergi PLN–Polresta Serang Jaga Keandalan Listrik Banten
Namun ia mengingatkan, keberhasilan operasional harus diikuti dengan keberpihakan nyata kepada konsumen.
“Efisiensi pembangkit dan penurunan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) semestinya menjadi dasar untuk memperkuat keadilan tarif dan memperluas akses listrik bagi sektor produktif masyarakat,” katanya.
ALPERKLINAS juga mengapresiasi pernyataan Komisaris Independen PLN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, yang menekankan pentingnya pengelolaan pembangkit secara profesional dan efisien.
Bagi Tohom, pengawasan dewan komisaris merupakan instrumen strategis agar aset negara tidak hanya aman secara teknis, tetapi juga optimal secara sosial dan ekonomi.
“Pengawasan ini harus berujung pada satu hal: kepastian bahwa listrik menjadi penggerak ekonomi rakyat, bukan sekadar laporan kinerja korporasi,” tegasnya.
Tohom turut menyoroti penjelasan Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha PLN Enjiniring, Kurnia Rumdhony, terkait keberhasilan PLTMG Luwuk dalam menurunkan BPP sistem kelistrikan setempat.
Menurutnya, langkah tersebut membuka peluang besar bagi tumbuhnya industri lokal dan UMKM.
“Surplus daya dan efisiensi biaya adalah modal emas. Tinggal bagaimana PLN dan pemerintah daerah bersinergi agar investasi masuk dan serapan tenaga kerja meningkat,” ujar Tohom.
Dari sisi distribusi, ALPERKLINAS memandang komitmen PLN UID Suluttenggo dan PLN UP3 Luwuk dalam menjaga keandalan jaringan sebagai langkah yang patut diapresiasi, sembari menegaskan pentingnya pengawasan yang konsisten dan berkelanjutan guna memastikan kualitas layanan tetap terjaga.
“Konsumen tidak melihat pembangkit atau jaringan secara terpisah. Yang mereka rasakan hanya satu: listrik menyala atau tidak. Di situlah tanggung jawab PLN sebagai penyedia layanan publik diuji,” kata Tohom.
Ia menambahkan, penggunaan gas bumi lokal sebagai bahan bakar PLTMG Luwuk juga harus menjadi contoh transisi energi yang realistis dan berpihak pada lingkungan tanpa mengorbankan keandalan pasokan.
“Ini adalah fondasi ketahanan energi daerah. Jika dikelola konsisten, Banggai bisa menjadi model sistem kelistrikan regional yang efisien, andal, dan berkeadilan,” pungkasnya.
[Redaktur: Mega Puspita]