KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif peluncuran proyek PLTS Mentari Nusantara I berkapasitas 1,225 gigawatt (GW) oleh PT PLN (Persero) melalui skema pengadaan terintegrasi GIGA ONE.
Langkah ini dinilai sebagai strategi penting dalam mempercepat transisi energi nasional sekaligus memperkuat keandalan pasokan listrik berbasis energi bersih.
Baca Juga:
Infrastruktur PLN Sokong Microsoft di Jabar, ALPERKLINAS: Momentum Transformasi Digital Indonesia
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menilai pendekatan bundling dalam GIGA ONE menghadirkan paradigma baru dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang lebih terukur dan menarik bagi investor.
“Model konsolidasi proyek seperti ini membuka ruang efisiensi yang nyata, bukan hanya dari sisi biaya, tetapi juga dalam kepastian eksekusi proyek yang selama ini sering menjadi hambatan utama,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Ia melihat proyek PLTS skala besar ini sebagai fondasi penting untuk membangun ekosistem energi bersih yang tidak terfragmentasi.
Baca Juga:
Grid Extension Banyuasin Perkuat Listrik Daerah, ALPERKLINAS: Fondasi Penting Dorong Investasi
“Kalau selama ini proyek energi terbarukan berjalan parsial, GIGA ONE justru menyatukan semuanya dalam satu orkestrasi besar yang lebih terintegrasi, sehingga dampaknya langsung terasa pada industri dan konsumen,” kata Tohom.
Menurutnya, distribusi kapasitas proyek yang tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa, Kalimantan, hingga Papua menunjukkan arah kebijakan yang inklusif dan berkeadilan energi.
“Pemerataan pembangunan PLTS ini penting untuk memastikan akses listrik hijau tidak hanya terpusat di wilayah industri, tetapi juga menjangkau daerah yang selama ini menjadi frontier pembangunan,” ujarnya.
Tohom juga menilai bahwa dorongan terhadap peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) akan menjadi multiplier effect bagi industri nasional.
“Ketika rantai pasok dalam negeri diperkuat, kita tidak hanya membangun pembangkit listrik, tetapi juga menciptakan basis industri manufaktur energi yang berdaya saing global,” katanya.
Ia menambahkan bahwa proyek ini berpotensi menciptakan gelombang baru green jobs yang berkelanjutan.
“Lapangan kerja yang lahir dari sektor energi bersih memiliki karakter jangka panjang dan bernilai tinggi, ini akan menjadi fondasi ekonomi masa depan yang lebih resilient,” ujar Tohom.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa langkah PLN melalui GIGA ONE menunjukkan keberanian institusi dalam melakukan lompatan kebijakan yang tidak biasa.
“Ini bukan langkah incremental, tetapi sebuah loncatan strategis yang memperlihatkan bahwa PLN siap menjadi lokomotif transisi energi nasional,” ujarnya.
Ia melihat target commercial operation date (COD) pada 2029 sebagai indikator keseriusan perencanaan yang matang.
“Timeline yang jelas seperti ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan bahwa proyek tidak berhenti di tahap wacana,” kata dia.
Tohom juga memandang rencana replikasi GIGA ONE ke sektor hidro, bayu, dan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai sinyal kuat menuju sistem energi yang lebih adaptif.
“Integrasi pembangkit dengan sistem penyimpanan energi akan menjadi kunci stabilitas jaringan listrik di era energi terbarukan,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara percepatan proyek dan perlindungan konsumen.
“Transformasi energi harus tetap berpihak pada keterjangkauan tarif dan kualitas layanan, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” katanya.
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan bahwa strategi bundling GIGA ONE membuat proyek menjadi lebih bankable dan efisien.
Sementara Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar menyebut program ini sebagai penggerak awal menuju target pembangunan PLTS 100 GW yang dicanangkan pemerintah.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]