KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyampaikan apresiasi atas langkah cepat pemerintah yang mengerahkan seluruh sumber daya untuk membantu proses pemulihan kelistrikan Aceh pascabencana banjir dan angin kencang.
ALPERKLINAS menilai kolaborasi lintas lembaga ini menjadi bukti bahwa penanganan infrastruktur energi di tengah bencana harus dilakukan secara terintegrasi, tangkas, dan berbasis keselamatan publik.
Baca Juga:
Tower 150 kV di Aceh Roboh, Jaringan Distribusi Rusak: PLN Kerahkan Pemulihan Berlapis
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kerja keras PLN dalam memulihkan pasokan listrik Aceh menunjukkan kapasitas institusi yang semakin adaptif menghadapi bencana hidrometeorologi.
“PLN bergerak cepat bukan hanya karena tuntutan keadaan, tetapi karena kesadaran kuat bahwa listrik adalah kebutuhan dasar yang menjadi urat nadi masyarakat,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).
Ia menambahkan bahwa pola gangguan ekstrem, seperti angin kencang dan banjir serempak, jadi peringatan untuk membangun infrastruktur energi yang lebih tangguh.
Baca Juga:
PLN Maksimalkan Genset dan Kirim 500 Personel untuk Pulihkan Aceh
“Ke depan, kita memerlukan ekosistem kelistrikan yang tahan gangguan, terutama di wilayah rawan bencana. Ini bukan sekadar perbaikan jangka pendek, tetapi transformasi struktural yang visioner,” kata Tohom.
Menurutnya, mobilisasi helikopter, Hercules, hingga dukungan personel dari TNI dan Polri menunjukkan aspek strategis yang perlu terus diperkuat: integrasi lintas sektor.
“Model kolaborasi seperti ini harus menjadi prototipe nasional. Di masa depan, respons bencana tidak boleh reaktif, tetapi harus bertumpu pada kesiapan sistemik yang terus diperbarui,” jelasnya.
Tohom juga menggarisbawahi pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan jalur perbaikan, memberikan informasi situasi secara akurat, serta tidak menghambat mobilisasi petugas.
“Ketahanan energi itu urusan bersama. PLN sudah bekerja dalam medan berat, dan masyarakat dapat mempercepat pemulihan dengan sikap kooperatif dan peduli. Inilah wujud solidaritas energi yang harus terus hidup,” ungkapnya.
Ia berharap langkah pemerintah dan PLN dalam pemulihan Aceh menjadi momentum nasional untuk memperkuat tata kelola kelistrikan di wilayah rawan.
“Bencana tidak bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa diminimalkan jika kita menata ulang strategi ketahanan energi dengan lebih progresif,” pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa Kabupaten Bireuen menjadi titik fokus utama perbaikan setelah 12 tower SUTT 150 kV rubuh akibat banjir dan angin kencang.
Enam tower di antaranya berada di wilayah Bireuen yang menjadi episentrum gangguan kelistrikan Aceh.
Ia menuturkan bahwa PLN mengerahkan tim recovery untuk mempercepat pemulihan, dibantu TNI AU yang menyediakan pesawat Hercules untuk mengangkut tujuh material tower darurat dari luar daerah.
Dukungan juga datang dari TNI AD dan Polda Aceh yang membantu logistik serta mobilisasi personel menuju titik pemulihan yang sulit dijangkau jalur darat.
[Redaktur: Mega Puspita]