Ia juga mengungkapkan bahwa integrasi sumber energi terbarukan dari sektor industri ke dalam sistem kelistrikan nasional dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan PLN.
“PLN bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat bauran energi nasional sekaligus meningkatkan fleksibilitas sistem distribusi listrik,” katanya.
Baca Juga:
Harga Elpiji 12 Kg Naik, Bahlil: Itu untuk Orang Mampu, Bukan Masalah
Lebih lanjut, Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch mengatakan bahwa pengembangan EBT berbasis limbah merupakan bukti bahwa sektor non-kelistrikan dapat menjadi mitra strategis dalam mendukung transformasi PLN.
“PLN tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan industri seperti ini akan mempercepat pencapaian target net zero emission dan memperkuat posisi PLN sebagai penggerak utama transisi energi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ekonomi sirkular yang diterapkan dalam pengolahan limbah menjadi energi memiliki nilai strategis jangka panjang.
Baca Juga:
Kolaborasi ITERA–PLN Dorong Inovasi Energi, ALPERKLINAS: Menuju Kemandirian Listrik Nasional
“Ini adalah model masa depan. Limbah tidak lagi menjadi beban, tetapi aset energi yang mampu menciptakan efisiensi sekaligus menjaga lingkungan,” kata Tohom.
Di sisi lain, ALPERKLINAS melihat bahwa keberhasilan ini harus diikuti dengan kebijakan yang mendorong integrasi lebih luas antara sektor industri dan sistem kelistrikan nasional.
“Perlu ada kebijakan insentif dan regulasi yang mempercepat adopsi EBT agar manfaatnya bisa dirasakan secara nasional,” tutupnya.