KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mendorong seluruh pemangku kepentingan sektor kelistrikan untuk mempercepat optimalisasi energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu.
Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba mengatakan, arah kebijakan energi nasional perlu bergerak lebih progresif dengan memaksimalkan potensi domestik yang melimpah, mulai dari energi surya, biomassa hingga limbah industri berbasis organik.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung Kopdeskel Hadirkan PLTS, Terangi Wilayah Sulit Dijangkau
“Ketika dunia menghadapi tekanan geopolitik dan fluktuasi harga energi, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada BBM impor, karena ini berisiko terhadap stabilitas ekonomi dan tarif listrik dalam jangka panjang,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menilai, langkah PLN dalam mendorong cofiring biomassa di PLTU, pengembangan PLTS, hingga pemanfaatan biodiesel berbasis CPO merupakan fondasi penting menuju sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
“Pemanfaatan sawit untuk biodiesel, limbah menjadi biomassa, hingga pengolahan POME menjadi biogas bukan hanya solusi teknis, tetapi juga strategi ekonomi sirkular yang mampu menekan biaya produksi listrik sekaligus membuka peluang investasi baru,” katanya.
Baca Juga:
Efisiensi Energi dari Limbah Sawit Bukti Transformasi, ALPERKLINAS: PLN Makin Adaptif
Menurut Tohom, tren global juga menunjukkan bahwa investor mulai beralih ke sektor energi terbarukan sebagai respons atas ketidakpastian pasokan energi fosil, sehingga Indonesia memiliki momentum kuat untuk menarik investasi serupa dengan memperkuat regulasi dan kepastian proyek.
“Kalau kita mampu menciptakan ekosistem yang stabil dan transparan, arus investasi EBT akan meningkat signifikan, dan ini akan mempercepat transformasi energi nasional tanpa membebani APBN secara berlebihan,” ucapnya.
Ia menambahkan, optimalisasi EBT juga berdampak langsung terhadap perlindungan konsumen listrik, karena mampu menjaga kestabilan tarif di tengah gejolak harga energi global.
“Dalam perspektif perlindungan konsumen, EBT adalah solusi jangka panjang untuk memastikan listrik tetap terjangkau, andal, dan berkeadilan,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa transformasi energi yang dilakukan PLN saat ini sudah berada di jalur yang tepat, namun perlu akselerasi melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat.
“PLN tidak bisa berjalan sendiri, perlu dukungan seluruh stakeholder agar transisi energi ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terimplementasi secara masif di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia juga melihat bahwa penguatan energi terbarukan akan meningkatkan daya saing industri nasional, terutama dalam menghadapi tuntutan global terhadap produk rendah emisi.
“Ke depan, energi bersih bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk menjaga posisi Indonesia dalam rantai pasok global yang semakin mengedepankan prinsip keberlanjutan,” katanya.
Sebelumnya, CEO Asosiasi Modal Swasta Afrika (AVCA) Abi Mustapha-Maduakor menyebutkan bahwa investasi di sektor energi terbarukan diperkirakan akan meningkat seiring ketidakpastian geopolitik global.
Ia menambahkan, dampak konflik turut mendorong negara-negara mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas, sekaligus mengalihkan fokus pada sumber energi domestik yang lebih stabil.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]