KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif langkah PT PLN (Persero) dalam mendukung pengembangan kampus data center CGK milik Digital Edge di Bekasi, Jakarta Raya, melalui pengamanan pasokan listrik hingga 1,45 GW.
Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba mengatakan, kerja sama tersebut menunjukkan bahwa PLN tidak hanya menjalankan fungsi penyedia tenaga listrik, tetapi juga berperan strategis dalam membangun fondasi ekonomi digital nasional.
Baca Juga:
Viral Dugaan Pesta Sesama Jenis, THM di Karawang Langsung Disegel Satpol PP
“Ini adalah soal bagaimana PLN ikut memastikan Indonesia memiliki infrastruktur dasar untuk bersaing dalam ekonomi digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan,” ujar Tohom dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Menurut Tohom, kebutuhan listrik untuk sektor data center akan semakin besar seiring meningkatnya adopsi teknologi digital, layanan cloud, big data, dan artificial intelligence atau AI.
Ia menilai, keberhasilan PLN mengamankan komitmen daya sebesar 1,45 GW untuk satu kampus data center merupakan sinyal penting bahwa Indonesia mulai bergerak ke arah pembangunan infrastruktur digital berskala global.
Baca Juga:
Bupati Muara Enim Edison Terseret OTT KPK, Dugaan Duit Proyek Pendidikan Mulai Terbongkar
“Data center generasi baru membutuhkan listrik yang besar, stabil, bersih, dan andal. Dalam konteks ini, PLN berada di posisi yang sangat menentukan, karena tidak ada transformasi digital tanpa fondasi kelistrikan yang kuat,” katanya.
Digital Edge sebelumnya mengumumkan dua pencapaian penting di kampus data center CGK berkapasitas 500 MW yang berlokasi di Bekasi, yakni penyelesaian struktur atau topping out gedung pertama CGK1 dan penandatanganan perjanjian baru dengan PLN.
Perjanjian tersebut meningkatkan pasokan listrik yang telah diamankan menjadi 1,45 GW bagi kampus data center tersebut, sekaligus disebut sebagai komitmen daya terbesar yang pernah diamankan untuk satu kampus pusat data di Indonesia.
Pasokan listrik itu disusun dalam skema 2 x 725 MVA melalui dua jalur suplai independen, sehingga menghadirkan arsitektur kelistrikan dual-feed untuk mendukung beban kerja mission-critical, termasuk AI dan komputasi awan.
Tohom menilai, skema pasokan listrik berlapis seperti itu menjadi sangat penting karena data center tidak dapat diperlakukan seperti beban listrik biasa.
“Pusat data bekerja selama 24 jam tanpa ruang toleransi terhadap gangguan. Karena itu, dukungan dual-feed dan pasokan berskala besar dari PLN menjadi bagian penting dari perlindungan konsumen digital, baik korporasi, pelaku usaha, maupun masyarakat pengguna layanan digital,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa penguatan layanan listrik untuk sektor data center harus dilihat sebagai bagian dari transformasi peran PLN dalam menghadapi perubahan struktur kebutuhan energi nasional.
Menurutnya, konsumsi listrik Indonesia ke depan tidak hanya akan bertumpu pada rumah tangga dan industri konvensional, tetapi juga pada sektor ekonomi digital yang membutuhkan kualitas daya tinggi.
“PLN harus terus naik kelas, dari penyedia listrik konvensional menjadi enabler utama pertumbuhan ekonomi masa depan. Data center, kendaraan listrik, industri hijau, dan AI semuanya membutuhkan PLN yang kuat, adaptif, dan visioner,” ujar Tohom.
Ia menambahkan, investasi Digital Edge senilai US$4,5 miliar pada CGK Campus menjadi bukti bahwa investor global melihat Indonesia sebagai pasar strategis dalam pengembangan infrastruktur digital.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung workload AI dan komputasi intensif data, dengan target annualized PUE sebesar 1,25, sertifikasi LEED, sistem daur ulang air, energi terbarukan, serta teknologi pendinginan cair.
“Ketika investor global masuk dengan investasi sebesar ini, maka kesiapan PLN menjadi salah satu faktor penentu. Kalau listriknya kuat dan regulasinya mendukung, Indonesia bisa menjadi pusat data center yang kompetitif di Asia Tenggara,” tutur Tohom.
Ia juga mengapresiasi pernyataan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo yang menyebut PLN terus berperan aktif memperkuat ekosistem digital nasional melalui penyediaan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan.
Menurut Tohom, komitmen tersebut harus terus dikawal agar pengembangan data center tidak hanya menguntungkan pelaku industri besar, tetapi juga memberi nilai tambah bagi konsumen dan perekonomian nasional.
“ALPERKLINAS melihat langkah PLN ini sebagai sinyal positif. Namun ke depan, yang perlu dijaga adalah kualitas layanan, stabilitas pasokan, efisiensi, dan keberlanjutan energi, sehingga pertumbuhan data center tetap sejalan dengan kepentingan konsumen listrik nasional,” katanya.
Tohom menilai, keberadaan Kampus CGK di Bekasi juga memiliki makna strategis karena memperkuat ekosistem digital di kawasan penyangga Jakarta sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru.
Lokasi CGK Campus yang berada kurang dari 15 kilometer dari klaster pusat data Cikarang dan sekitar 40 kilometer dari fasilitas EDGE1 dan EDGE2 di Jakarta dinilai akan memperkuat konektivitas digital nasional.
“Bekasi dan kawasan sekitarnya tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah industri manufaktur, tetapi juga mulai menjadi simpul penting ekonomi digital. Ini perkembangan yang harus dibaca secara serius oleh pemerintah, PLN, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Tohom.
Ia berharap sinergi PLN dengan pelaku industri data center dapat menjadi model kolaborasi strategis dalam mendukung agenda transformasi digital Indonesia.
“Kalau Indonesia ingin menjadi pemain utama ekonomi AI, maka fondasinya harus disiapkan dari sekarang. Salah satu fondasi paling vital itu adalah listrik yang cukup, andal, dan berkelanjutan. Dalam titik inilah peran PLN menjadi sangat strategis,” ucapnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]