KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) merespons serius gangguan kelistrikan yang terjadi akibat banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara.
Organisasi ini menegaskan bahwa keselamatan masyarakat harus ditempatkan di atas semua kepentingan, serta mengimbau seluruh kepala daerah terdampak beserta unsur masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap upaya pemulihan pasokan listrik oleh PT PLN (Persero).
Baca Juga:
Akses Putus, Tim PLN Jalan Kaki 64 Km Demi Perbaiki Gardu Induk di Sibolga
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menilai bahwa bencana hidrometeorologi yang terus berulang menuntut seluruh pihak untuk memperkuat koordinasi dan mempercepat langkah pemulihan secara sistematis.
“Pemulihan listrik bukan sekadar menyalakan kembali jaringan, tetapi memastikan bahwa setiap titik yang dipulihkan benar-benar aman bagi warga,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).
Tohom menambahkan, kondisi lapangan yang masih tergenang, akses jalan yang terputus, serta tanah yang belum stabil adalah faktor-faktor yang harus mendapat perhatian ketat agar proses pemulihan tidak justru menimbulkan risiko baru.
Baca Juga:
Aksi Cepat PLN di Wilayah Bencana Alam Sumut Tuai Apresiasi Wabup Taput
Ia menilai langkah PLN yang mendahulukan keselamatan sebagai keputusan tepat.
“Ketika jaringan belum aman, jangan dipaksakan. Risiko sengatan listrik atau runtuhan instalasi bisa mengancam warga. ALPERKLINAS mendukung penuh prinsip kehati-hatian ini,” tegasnya.
Lebih jauh, Tohom memberikan analisis visioner mengenai pentingnya tata kelola mitigasi bencana berbasis kelistrikan.
Menurutnya, setiap kepala daerah di wilayah rawan wajib memiliki protokol kelistrikan darurat yang terhubung dengan PLN, termasuk peta risiko banjir, penempatan gardu yang aman, hingga simulasi pemutusan arus berbasis kondisi.
“Kita tidak boleh lagi menunggu bencana besar untuk menyadari lemahnya kesiapan. Kepala daerah harus menjadi komandan lapangan dalam menjaga keselamatan energi warganya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan perlunya partisipasi masyarakat untuk tidak memaksa PLN menyalakan listrik sebelum area dinyatakan aman.
“Kami meminta masyarakat memahami bahwa pemadaman sementara adalah langkah penyelamatan. Jangan terpancing desakan-desakan emosional. Ikuti arahan petugas PLN, BPBD, dan aparat,” ungkapnya.
Dalam pandangannya, dukungan publik dan pemerintah daerah akan menentukan kecepatan pemulihan jaringan.
Tohom menilai sinergi yang sudah dilakukan PLN dengan BPBD, TNI/Polri, perangkat desa, serta para relawan merupakan langkah ideal yang harus terus diperkuat.
“Pemulihan listrik adalah kerja kolektif. Setiap alat berat, setiap akses yang dibuka, setiap warga yang membantu evakuasi lumpur, semuanya mempercepat energi kembali menyala,” jelasnya.
Tohom juga mengapresiasi pencapaian PLN yang berhasil memulihkan layanan bagi lebih dari 181 ribu pelanggan per 28 November.
Menurutnya, ini menunjukkan kapasitas teknis dan komitmen PLN dalam menghadapi situasi ekstrem.
“Namun ke depan, kita perlu mengantisipasi perubahan iklim yang membuat bencana semakin sering terjadi. Infrastruktur listrik harus disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk,” paparnya.
Ia menutup seruannya dengan mengajak semua pihak untuk lebih disiplin, lebih kolaboratif, dan lebih sadar risiko.
“Energi adalah nadi kehidupan masyarakat. Maka keselamatannya harus kita jaga bersama,” pungkasnya.
[Redaktur: Mega Puspita]