KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif langkah pemerintah dalam memetakan bendungan untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sebagai strategi mempercepat transisi energi.
Langkah ini juga dinilai mampu memperkuat peran PT PLN (Persero) dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
Baca Juga:
Dorong Stakeholder Kelistrikan Optimalkan EBT Demi Kurangi Pemakaian BBM, ALPERKLINAS: Transisi Energi Jadi Kunci Ketahanan Nasional
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba menyampaikan, “Langkah pemanfaatan bendungan untuk PLTS ini bukan hanya soal menambah kapasitas, tetapi tentang bagaimana PLN mampu mengorkestrasi energi bersih dalam sistem yang stabil, terukur, dan berkelanjutan.”
Ia menjelaskan bahwa pendekatan berbasis bendungan memberikan keunggulan strategis karena infrastruktur dasar sudah tersedia, sehingga biaya integrasi dapat ditekan dan waktu implementasi menjadi lebih cepat dibanding pembangunan dari nol.
“Kalau 20% bendungan bisa dimanfaatkan dan menghasilkan lebih dari 15 GW, ini bukan angka kecil, ini game changer. PLN harus memastikan energi ini tidak hanya masuk ke sistem, tetapi juga terserap optimal oleh industri dan masyarakat,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Baca Juga:
Pemerintah Kantongi Komitmen 150 Juta Barel Minyak Rusia
Menurut Tohom, tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada potensi energi, melainkan pada penciptaan permintaan yang sehat dan berkelanjutan, sehingga investasi di sektor energi surya tidak berhenti di tahap pembangunan saja.
Ia menambahkan bahwa pengembangan PLTS, baik ground mounted, atap, maupun apung, harus berjalan paralel dengan penguatan jaringan transmisi dan distribusi yang dikelola PLN agar tidak terjadi bottleneck dalam penyaluran listrik.
“PLTS itu intermittent, tidak stabil seperti pembangkit konvensional. Di sinilah peran PLN sangat krusial, bagaimana balancing system, grid management, dan storage bisa diintegrasikan secara cerdas,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa keberhasilan target 100 GW PLTS pada 2029 akan sangat ditentukan oleh kesiapan PLN dalam mengelola kompleksitas sistem energi masa depan yang semakin dinamis.
Ia melihat bahwa kombinasi PLTS apung di bendungan, PLTS atap, dan dukungan kebijakan pemerintah dapat menciptakan ekosistem energi baru yang lebih mandiri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
“Kalau ini dikelola dengan benar, Indonesia tidak hanya menjadi pasar energi surya, tetapi juga bisa menjadi pemain utama dalam rantai pasok global, dari manufaktur hingga teknologi energi bersih,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pemanfaatan sekitar 20% bendungan untuk PLTS, yang berpotensi menambah lebih dari 15 GW kapasitas listrik, sebagai bagian dari upaya mencapai target 100 GW PLTS nasional pada 2029.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]