Tohom mengatakan pemulihan sistem pembangkit, jaringan transmisi, gardu induk hingga distribusi ke pelanggan membutuhkan koordinasi teknis yang sangat kompleks.
Menurutnya, proses tersebut tidak dapat diselesaikan secara instan tanpa kesiapan sumber daya manusia maupun sistem operasional yang kuat.
Baca Juga:
Bareskrim Bongkar Fakta Blackout Sumatera, Polisi Pastikan Belum Ada Unsur Sabotase
“Publik perlu melihat bahwa proses recovery kelistrikan skala besar bukan pekerjaan sederhana karena ada sinkronisasi sistem yang harus dijaga dengan tingkat keamanan tinggi agar tidak menimbulkan gangguan susulan,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga kondusivitas dan memberikan ruang kepada petugas PLN yang masih bekerja di lapangan untuk memastikan pasokan listrik kembali stabil sepenuhnya di seluruh wilayah terdampak.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch mengatakan insiden blackout Sumatra harus menjadi pelajaran penting untuk mempercepat investasi penguatan transmisi 500 kV dan 275 kV di berbagai daerah agar sistem interkoneksi nasional memiliki cadangan daya dan fleksibilitas yang lebih kuat.
Baca Juga:
Viral WO Diduga Tipu Pengantin di Bekasi, Resepsi Berubah Jadi Tangisan Massal
“Ke depan, Indonesia membutuhkan sistem kelistrikan supergrid yang modern, adaptif, dan berbasis mitigasi risiko sehingga ketika ada gangguan besar, sistem tetap mampu bertahan dan pulih lebih cepat,” ucapnya.
Menurut dia, dukungan pemerintah melalui Kementerian ESDM dalam penguatan jaringan transmisi dan pembangunan pembangkit cadangan menjadi langkah penting untuk menjaga keandalan energi nasional di tengah pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi yang terus meningkat.
Sebelumnya, PT PLN (Persero) menyampaikan sistem kelistrikan Sumatra berangsur pulih setelah gangguan meluas yang sempat terjadi pada jaringan transmisi interkoneksi di wilayah tersebut sejak Jumat (22/5/2026).