KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif dimulainya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 Mega Watt (MW) di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Organisasi perlindungan konsumen kelistrikan tersebut menilai proyek energi terbarukan yang dikembangkan PT Tujuan Mulia Makmur (TMM) dan didukung sistem kelistrikan PLN itu menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca Juga:
Energi Baru dari PEP Zona 4, Sumur LBK-030 di Muara Enim Berpotensi Produksi 3.073 BOPD
Selain itu, proyek tersebut juga diyakini mampu menghadirkan pasokan listrik yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan bagi masyarakat Kalimantan di masa mendatang.
Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba mengatakan pembangunan PLTA Batoq Kelo menunjukkan bahwa Indonesia semakin serius memanfaatkan sumber daya energi domestik untuk memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang.
“PLTA Batoq Kelo bukan hanya proyek pembangkit listrik, melainkan simbol transformasi energi Indonesia. Ketika potensi sungai dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik bersih, maka yang sedang dibangun bukan hanya infrastruktur, tetapi fondasi kemandirian energi bangsa,” kata Tohom Purba, Senin (1/6/2026).
Baca Juga:
PLN Hadirkan 8 Ultra Fast Charging di Aloha PIK 2, ALPERKLINAS: Standar Baru Kenyamanan EV
Menurutnya, keberadaan pembangkit berbasis tenaga air berkapasitas besar akan memberikan manfaat strategis bagi sistem kelistrikan Kalimantan yang saat ini terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas industri, investasi dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
Tohom menilai pembangunan PLTA Batoq Kelo juga selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam mempercepat transisi menuju energi rendah karbon dan target Net Zero Emission tahun 2060.
“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya air yang luar biasa. Jika potensi ini dikelola secara konsisten dan terintegrasi dengan sistem transmisi yang kuat, maka ketergantungan terhadap energi fosil dapat berkurang secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik,” ujarnya.
Ia melihat peran PLN menjadi sangat penting dalam memastikan energi yang dihasilkan pembangkit baru dapat tersalurkan secara optimal kepada pelanggan. Karena itu, pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk yang dilakukan PLN harus berjalan beriringan dengan pembangunan pembangkit energi terbarukan.
“Pembangkit yang besar harus didukung jaringan yang kuat. Di sinilah visi PLN terlihat, yakni tidak hanya membangun kapasitas pembangkitan, tetapi juga menyiapkan ekosistem kelistrikan yang mampu menjangkau masyarakat dan kawasan industri secara berkelanjutan,” katanya.
Tohom menambahkan proyek PLTA Batoq Kelo berpotensi menciptakan efek berganda bagi daerah, mulai dari pembukaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi lokal, hingga mendorong tumbuhnya investasi baru di Kalimantan Timur.
Menurutnya, keberadaan energi yang andal dan kompetitif merupakan salah satu faktor utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal dalam skala besar.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch mengatakan pembangunan PLTA Batoq Kelo menunjukkan bahwa masa depan ketahanan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan sumber daya alam, tetapi juga kemampuan mengelolanya menjadi energi yang bernilai tambah bagi masyarakat.
“Ke depan, proyek seperti Batoq Kelo harus menjadi model pengembangan energi nasional. Kita memiliki sungai, sumber daya alam, teknologi, serta dukungan kebijakan. Jika semuanya terhubung dengan baik, Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan energi hijau terbesar di kawasan Asia,” ucapnya.
Ia berharap pembangunan proyek tersebut dapat berjalan sesuai jadwal sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat dan mampu memperkuat sistem kelistrikan Kalimantan dalam jangka panjang.
Sebelumnya, pembangunan PLTA Batoq Kelo berkapasitas 300 MW resmi dimulai melalui groundbreaking yang digelar pada 25 Mei 2026.
Pembangkit yang berlokasi di Sungai Bo, anak Sungai Mahakam, tersebut dikembangkan PT Tujuan Mulia Makmur dan diharapkan menjadi salah satu sumber listrik bersih penting bagi Kalimantan.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyatakan proyek tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi dan target Net Zero Emission 2060.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut Kalimantan Timur memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan energi baru terbarukan nasional, sementara Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud berharap PLTA Batoq Kelo dapat menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus membuka harapan baru bagi masyarakat Mahakam Ulu.
General Manager PLN UIP Kalimantan Bagian Timur Basuki Widodo juga menyatakan PLN terus memperkuat pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk agar pasokan listrik dari berbagai sumber energi dapat tersalurkan secara optimal.