KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mendukung penguatan ekosistem energi baru terbarukan (EBT), khususnya melalui optimalisasi pemanfaatan biomasa sebagai sumber energi pembangkit listrik yang berkelanjutan dan berbasis potensi domestik.
“Kita melihat biomasa bukan hanya alternatif, tetapi fondasi penting dalam membangun kemandirian energi nasional yang lebih resilien dan berkeadilan,” ujar Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, Senin (27/4/2026).
Baca Juga:
Dukung WFH, ALPERKLINAS: Diskon Tambah Daya 50 Persen Jadi Momentum Adaptasi Konsumsi Listrik Rumah Tangga
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki keunggulan besar dalam ketersediaan biomasa, mulai dari limbah pertanian, kehutanan, hingga industri kelapa sawit yang selama ini masih dapat dioptimalkan sebagai sumber energi listrik.
“Kalau dikelola secara sistematis, biomasa bisa menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus membuka peluang ekonomi baru di daerah,” katanya.
Menurutnya, integrasi biomasa dalam sistem pembangkit PLN melalui skema co-firing di PLTU maupun pengembangan pembangkit berbasis biomasa mandiri perlu terus diperkuat karena memberikan dampak ganda dari sisi lingkungan dan ekonomi.
Baca Juga:
Dorong Stakeholder Kelistrikan Optimalkan EBT Demi Kurangi Pemakaian BBM, ALPERKLINAS: Transisi Energi Jadi Kunci Ketahanan Nasional
Ia menilai pendekatan ini dapat menciptakan rantai nilai baru yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha lokal, hingga sektor industri, sehingga manfaatnya tidak hanya berhenti pada produksi listrik, tetapi juga peningkatan kesejahteraan.
“Di sinilah letak kekuatan biomasa, dia bukan hanya energi, tetapi ekosistem ekonomi yang hidup,” ujarnya.
Ia juga memandang langkah PLN dalam mengadopsi biomasa sebagai bagian dari strategi transisi energi merupakan arah progresif yang perlu diperkuat dengan dukungan regulasi, insentif, serta kepastian pasar.
“PLN sudah berada di jalur yang tepat dengan mulai memanfaatkan biomasa sebagai bagian dari bauran energi nasional, dan ini perlu dijaga konsistensinya agar tidak terhambat persoalan teknis maupun kebijakan,” katanya.
Di sisi lain, Tohom mengingatkan pentingnya standardisasi kualitas biomasa serta kesiapan rantai pasok agar implementasi di lapangan berjalan optimal dan tidak menimbulkan inefisiensi.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa transformasi energi tidak bisa hanya dilihat dari sisi teknologi, tetapi juga harus memperhatikan kesiapan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Kalau ekosistemnya kuat, transisi energi kita tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, optimalisasi biomasa dapat menjadi salah satu jawaban strategis Indonesia dalam menghadapi dinamika global sektor energi, termasuk fluktuasi harga bahan bakar dan tekanan terhadap isu lingkungan.
“Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat kemandirian energi nasional berbasis sumber daya dalam negeri yang melimpah,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]