KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan elektrifikasi di berbagai sektor sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional.
Upaya konversi penggunaan energi berbasis impor seperti BBM dan LPG ke energi listrik dinilai sebagai solusi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.
Baca Juga:
Peduli Sosial, ALPERKLINAS Apresiasi KESDM, BUMN Energi dan PLN Fasilitasi 1.496 Peserta Mudik Gratis
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa transformasi menuju energi listrik harus menjadi agenda prioritas nasional yang dijalankan secara konsisten dan terintegrasi lintas sektor.
“Ketergantungan terhadap impor BBM dan LPG adalah kerentanan struktural yang harus segera kita kurangi. Elektrifikasi, khususnya melalui penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik, merupakan langkah nyata untuk mengalihkan konsumsi energi ke sumber yang lebih mandiri dan berbasis domestik,” ujar Tohom, belum lama ini.
Ia menilai, peran PT PLN (Persero) menjadi sangat strategis dalam mengawal proses transisi energi tersebut, terutama dalam memastikan keandalan pasokan listrik serta kesiapan infrastruktur pendukung.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Sebut Program Ekspor Listrik ke Luar Negeri Baik untuk Peningkatan Ekonomi Asalkan Pasokan Dalam Negeri Tidak Terganggu
“PLN berada di garis depan dalam transformasi energi nasional. Dengan kapasitas pembangkit yang memadai dan cadangan daya yang cukup besar, PLN memiliki ruang untuk mendorong peningkatan konsumsi listrik secara produktif, sekaligus memastikan layanan tetap andal dan terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya.
Tohom juga menyoroti bahwa elektrifikasi bukan sekadar peralihan teknologi, melainkan perubahan paradigma dalam pengelolaan energi nasional yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya soal mengganti kompor atau kendaraan, tetapi bagaimana kita membangun sistem energi yang tahan terhadap gejolak global. Ketika energi kita berbasis listrik yang bersumber dari potensi dalam negeri, maka kita memiliki kendali lebih besar terhadap stabilitas harga dan pasokan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, PLN, dan masyarakat dalam mempercepat adopsi teknologi listrik, termasuk melalui edukasi, insentif, serta penguatan ekosistem industri pendukung.
“Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang pro-rakyat agar transisi ini tidak membebani masyarakat, sementara PLN harus terus meningkatkan kualitas layanan dan infrastruktur. Di sisi lain, masyarakat juga perlu diedukasi bahwa elektrifikasi adalah investasi jangka panjang untuk efisiensi dan keberlanjutan,” tambahnya.
Menurut Tohom, langkah ini juga akan membuka peluang besar bagi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, sehingga target bauran energi dan pengurangan emisi karbon dapat tercapai secara simultan.
“Elektrifikasi akan menjadi pintu masuk optimalisasi energi terbarukan seperti surya, angin, dan bioenergi. Ini adalah momentum bagi Indonesia untuk melompat menjadi negara dengan sistem energi modern, bersih, dan mandiri,” tutupnya.
Sebelumnya, Dewan Energi Nasional (DEN) menilai Indonesia masih bergantung pada impor BBM dan LPG yang membuat sistem energi domestik rentan terhadap gejolak pasar global.
Anggota DEN Kholid Syeirazi menyampaikan bahwa percepatan elektrifikasi, termasuk penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik, menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain itu, Indonesia juga dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan seperti surya, angin, dan biofuel, yang dapat mendukung kemandirian energi sekaligus pengurangan emisi.
Dari sisi kelistrikan, kapasitas nasional dinilai masih mencukupi untuk menopang peningkatan kebutuhan listrik seiring dengan percepatan elektrifikasi.
[Redaktur: Mega Puspita]