Pasokan listrik itu disusun dalam skema 2 x 725 MVA melalui dua jalur suplai independen, sehingga menghadirkan arsitektur kelistrikan dual-feed untuk mendukung beban kerja mission-critical, termasuk AI dan komputasi awan.
Tohom menilai, skema pasokan listrik berlapis seperti itu menjadi sangat penting karena data center tidak dapat diperlakukan seperti beban listrik biasa.
Baca Juga:
Viral Dugaan Pesta Sesama Jenis, THM di Karawang Langsung Disegel Satpol PP
“Pusat data bekerja selama 24 jam tanpa ruang toleransi terhadap gangguan. Karena itu, dukungan dual-feed dan pasokan berskala besar dari PLN menjadi bagian penting dari perlindungan konsumen digital, baik korporasi, pelaku usaha, maupun masyarakat pengguna layanan digital,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa penguatan layanan listrik untuk sektor data center harus dilihat sebagai bagian dari transformasi peran PLN dalam menghadapi perubahan struktur kebutuhan energi nasional.
Menurutnya, konsumsi listrik Indonesia ke depan tidak hanya akan bertumpu pada rumah tangga dan industri konvensional, tetapi juga pada sektor ekonomi digital yang membutuhkan kualitas daya tinggi.
Baca Juga:
Bupati Muara Enim Edison Terseret OTT KPK, Dugaan Duit Proyek Pendidikan Mulai Terbongkar
“PLN harus terus naik kelas, dari penyedia listrik konvensional menjadi enabler utama pertumbuhan ekonomi masa depan. Data center, kendaraan listrik, industri hijau, dan AI semuanya membutuhkan PLN yang kuat, adaptif, dan visioner,” ujar Tohom.
Ia menambahkan, investasi Digital Edge senilai US$4,5 miliar pada CGK Campus menjadi bukti bahwa investor global melihat Indonesia sebagai pasar strategis dalam pengembangan infrastruktur digital.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung workload AI dan komputasi intensif data, dengan target annualized PUE sebesar 1,25, sertifikasi LEED, sistem daur ulang air, energi terbarukan, serta teknologi pendinginan cair.