KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mendorong keterlibatan lebih luas sektor swasta dalam pengembangan energi bersih berbasis listrik guna mempercepat peningkatan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat sistem kelistrikan nasional.
Peran kolaboratif antara badan usaha dan PT PLN (Persero) dinilai menjadi kunci penting dalam mempercepat transisi energi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Perkuat Ekonomi Lokal Sekitar Pembangkit, ALPERKLINAS Apresiasi PLN Olah 3,44 Juta Ton Abu Sisa Pembakaran Batubara PLTU
Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba mengatakan bahwa langkah berbagai perusahaan yang mulai mengalihkan investasi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT) merupakan sinyal positif bagi masa depan kelistrikan nasional.
"Transformasi perusahaan swasta ke energi bersih adalah momentum strategis bagi Indonesia. Jika kolaborasi dengan PLN berjalan optimal, maka manfaatnya bukan hanya untuk sistem energi nasional tetapi juga untuk kualitas lingkungan dan perlindungan konsumen listrik," ujar Tohom, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan pembangkit EBT seperti tenaga surya, hidro skala kecil, hingga pemanfaatan energi dari limbah dapat memperkuat bauran energi nasional sekaligus mendukung agenda transisi energi yang dicanangkan pemerintah.
Baca Juga:
PLN UID Jakarta Raya Gelar Peralatan dan Personil KHS di Monas, Perkuat Kesiapan Layanan Kelistrikan bagi Masyarakat
Ia menjelaskan, PLN sebagai tulang punggung sistem kelistrikan nasional membutuhkan dukungan investasi swasta agar pengembangan energi bersih dapat berjalan lebih cepat tanpa mengganggu stabilitas pasokan listrik bagi masyarakat.
"PLN sudah berada di jalur yang tepat dalam mendorong energi bersih. Namun percepatan transisi energi membutuhkan dukungan investasi dari swasta. Ketika swasta masuk dengan teknologi dan modal, PLN bisa berperan sebagai pengelola sistem yang memastikan listrik tetap andal dan terjangkau bagi konsumen," katanya.
Tohom menilai tren investasi perusahaan di sektor energi bersih, termasuk pembangkit tenaga surya, mini hidro, hingga teknologi energy from waste, menunjukkan bahwa ekonomi hijau semakin menjadi arus utama dalam dunia bisnis energi.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik atau panas industri juga memiliki dampak ganda karena selain menghasilkan energi, teknologi tersebut turut membantu menyelesaikan persoalan lingkungan di perkotaan.
"Energy from waste adalah solusi dua sisi. Kita mengurangi beban sampah sekaligus menghasilkan energi. Ini sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan dan sangat relevan untuk kota-kota besar di Indonesia," jelasnya.
Lebih jauh, ALPERKLINAS memandang bahwa pengembangan ekosistem energi bersih juga akan memperkuat kepercayaan konsumen listrik terhadap arah kebijakan energi nasional.
"Ketika konsumen melihat bahwa listrik yang mereka gunakan semakin bersih dan ramah lingkungan, kepercayaan terhadap sistem kelistrikan nasional akan meningkat. Ini penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju ekonomi rendah karbon," ujar Tohom.
Ia juga menyebutkan bahwa konsistensi kebijakan energi sangat dibutuhkan agar investasi swasta di sektor EBT dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
"Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Jika dikelola secara konsisten dan melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah, PLN, swasta, hingga masyarakat, maka kita tidak hanya mencapai ketahanan energi tetapi juga kualitas lingkungan yang jauh lebih baik," tutupnya.
Sebelumnya, PT TBS Energi Utama Tbk mengungkapkan rencana ekspansi bisnis ke sektor energi baru terbarukan, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga mini hidro di Lampung dan proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam.
Perusahaan juga memperkuat lini bisnis pengelolaan limbah dan teknologi energy from waste sebagai bagian dari transformasi menuju bisnis energi hijau.
[Redaktur: Mega Puspita]